Senin, 25 Juni 2012

... PAHALA MENAFKAHI KELUARGA ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kepada setiap kepala keluarga, perhatikanlah kabar-kabar gembira yang menunjukkan betapa besar nikmat Allah subhanahu wata'aala untukmu! Betapa sempurnanya karunia dan pemberian yang dikaruniakan-Nya atasmu! Dia telah mengaruniaimu keturunan yang dengannya dapat menghiasi kehidupanmu, melapangkan dadamu dan memperbanyak keturunanmu, serta menambah pahalamu kelak di akhirat.!

Kerasnya tantangan kehidupan dalam mencari rizki, beratnya beban tanggung jawab yang melelahkan dan debu-debu tanah yang menempel seakan begitu berat, tampak di wajahmu dalam perjuangan (jihad) terbesar dan ibadah paling mulia bagimu itu.

Karenanya, janganlah bersedih! Itu adalah Sunnatul Hayah (tradisi kehidupan). Di situlah, kamu dicetak dan dengannya kamu diciptakan. Namun bagi orang yang memahami syariat Allah subhanahu wata'aala, maka hal itu menjadi demikian manis dan baik, sementara bagi orang yang menentang syariat-Nya, maka itu menjadi kesengsaraan dan kesia-siaan.

Keutamaan Memberi Nafkah Keluarga ...

Hanya orang yang jiwa kelelakiannya telah terpatri dalam hatinyalah yang dapat bersedih atas keluh-kesah keluarganya. Dan dalam hal ini, sama saja antara seorang budak dan orang merdeka, seorang Mukmin dan orang kafir.

Hanya saja, seorang Mukmin yang tulus menjadikan jalan keluar atas keluh-kesah keluarganya itu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wata'aala dan sebagai sarana mencari ganjaran dan pahala dariNya, karena ia mengetahui bahwa Allah subhanahu wata'aala telah menjadikannya pemimpin atas keluarganya dan telah memerinci mengenai hal itu dalam sebuah firman-Nya melalui lisan Nabi-Nya, Muhammad shallallahu 'alahi wasallam,

Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarga di rumahnya, dan ia bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya itu." (Muttafaqun 'alaih).

Allah subhanahu wata'aala juga menjanjikan pahala yang agung baginya dan keutamaan yang besar atas nafkah yang dikeluarkan dan perawatannya bagi anak-anaknya. Dari Sa'd radhiallahu `anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alahi wasallam berkata kepadanya,

"Sesungguhnya, sebesar apapun nafkah yang engkau keluarkan atas keluargamu, maka engkau diberi pahala (atas hal itu), sekali pun sesuap yang engkau sodorkan ke mulut isterimu." (HR.al-Bukhari)

Dalam hadits yang lain, dari Ka'ab bin 'Ujrah radhiallahu `anhu, ia berkata, "Pernah suatu ketika, seorang laki-laki melintas di hadapan Nabi shallallahu 'alahi wasallam, lalu para shahabat beliau melihat betapa keuletan dan semangat orang itu, sehingga membuat mereka kagum, lalu mereka berkata, Wahai Rasulullah, andaikata hal ini termasuk di jalan Allah subhanahu wata aala.?"

Maka Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, 'Jika ia keluar untuk berusaha menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu termasuk di jalan Allah subhanahu wata'aala. Dan jika ia keluar untuk berusaha dengan penuh riya` dan kesombongan, maka itu termasuk di jalan setan." (Shahih al-Jami', 2/8)

Dalam salah satu peperangan, pernah Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata kepada teman-temannya, "Tahukah kalian suatu amalan yang lebih utama dari apa yang kita lakukan saat ini (berperang).?" Mereka menjawab, "Kami tidak mengetahui hal itu."

Ia berkata, "Aku tahu itu."

Mereka mendesak, "Apa itu.?"

Ia menjawab, "Laki-laki suci yang memiliki tanggungan keluarga, shalat di malam hari, lalu memandangi anak-anaknya yang sedang tidur dalam keadaan aurat tersingkap, lalu ia menyelimuti dan menutupi mereka dengan pakaiannya. Maka, amalannya itu adalah lebih utama dari kondisi kita ini."

Bagi yang menjadi tulang punggung keluarga! Hendaknya bergembira karena dijanjikan surga oleh Rasulullah subhanahu wata'aala, yakni selama kamu berada di dalam Jihad Tarbiyah, saat kamu menanggung bebannya, bersabar atas keletihan yang dirasakan dan berjuang melawan kesulitan-kesulitannya!

Bila kamu merasa permasalahanmu demikian pelik dan seakan membuat frustasi, maka lihatlah karunia yang diberikan Allah subhanahu wata'aala kepadamu.Ketika itu, pasti kamu akan merasakan kesabaran memenuhi seluruh relung-relung hatimu, menghapus kesedihanmu, dan memantapkan langkahmu untuk menempuh celah-celah Tarbiyah.

Ingatlah, terkadang para pesedekah mengeluarkan sedekahnya sekali dalam setahun, atau sekali dalam sebulan. Tapi kamu? Dengan mendidik keluarga dan mereka yang berada di bawah tanggunganmu, kamu adalah pesedekah abadi; dengan harta, jiwa, kasih sayang dan kebapakanmu!

Dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Miqdam radhiallahu `anhu, ia berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Makanan yang kamu berikan kepada dirimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan kepada isterimu, maka itu sedekah untukmu; dan makanan yang kamu berikan untuk pelayanmu, maka itu sedekah untukmu." (Shahih Ibn Majah, 1739)

Janganlah bersedih, lihatlah bagaimana Allah subhanahu wata'aala mengaruniaimu dua kali nikmat:

a.. Pertama, Saat Dia menganugerahimu keluarga yang bisa jadi Dia tidak menganugerahkannya kepada orang lain. Dia telah berkenan mengaruniaimu keturunan, namun tidak memberikannya kepada orang lain. Dia berkenan memberikanmu anak, namun tidak memberikannya kepada orang lain.

Renungkan apa yang diberikan-Nya kepada Rasul-Nya tentang hal itu, (artinya) "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan..." (QS.ar-Ra'd:38)

Nikmat mendapatkan anak merupakan nikmat yang besar, yang wajib disyukuri dan untuk melakukannya dituntut suatu perjuangan. Dan ini baru dalam satu nikmat yang faedahnya tidak terhingga banyaknya.

b.. Kedua, saat Dia menjadikan tanggung jawabmu atas anak-anak dan jihadmu dalam mendidik dan menumbuh kembangkan mereka sebagai salah satu pintu kebaikan bagimu di akhirat kelak, saat dan tempat Dia mengampunimu dan menambahkan pahala bagimu karenanya.

Anak Perempuan dan Pahala Besar ..

Masih saja ada wajah-wajah yang kecewa, cemberut, dan murung manakala mengetahui anak yang barusan lahir dari perut isterinya berkelamin perempuan padahal sejak awal, Islam telah mengharamkan kebiasaan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan yang dilakukan pada masa Jahiliah, dan mewajibkan berbuat baik kepada mereka. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah subhanahu wata'aala, (artinya) "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah."(QS.an-Nahl:58),

Qatadah berkata, "Ini adalah perangai orang-orang Musyrikin Arab, dan Allah subhanahu wata'aala memberitahukan kepadamu kebusukannya.

Adapun seorang Mukmin, maka ia sungguh rela dengan apa yang telah diberikan Allah subhanahu wata'aala kepadanya. Dan apa yang ditakdirkan baginya adalah lebih baik dari diri seseorang.

Sungguh, aku tidak tahu, apa itu kebaikannya? Sungguh, betapa banyak bocah perempuan adalah lebih baik bagi keluarganya daripada bocah laki-laki. Bila Allah subhanahu wata'aala memberitakan kepadamu perangai mereka itu (orang-orang Musyrikin), maka hendaklah kamu jauhi dan berhenti darinya. Dulu, salah seorang dari mereka sudi memberi makan anjingnya namun tega mengubur hidup-hidup anak perempuannya."

Orang yang bersedih karena kelahiran bayi perempuannya adalah orang yang tidak memahami bahwa Sang Pemberi anak laki-laki dan perempuan itu adalah Allah subhanahu wata'aala.

Dia berfirman, "Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (QS.asy-Syuro:49-50)

Para ulama berkata, "Allah subhanahu wata'aala mengedepankan penyebutan perempuan atas laki-laki untuk memberikan karunia kepadanya (Perempuan). Karenanya, Dia memulai penyebutan diri perempuan sebelum laki-laki."

Mengenai betapa besar pahala yang diberikan kepada orangtua yang dianugerahi anak-anak perempuan, simak hadits yang diriwayatkan dari 'Uqbah bin 'Amir al-Juhani radhiallahu `anhu, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,

"Siapa saja yang memiliki tiga orang puteri, lalu bersabar, memberi makan, memberi minum dan memberi pakaian mereka dari hartanya, maka mereka kelak akan menjadi penghalang (tameng) baginya dari sentuhan api neraka." (Shahih al-Jami': 534)

Dalam hadits lain yang mirip dengan itu disebutkan, bahwa bukan hanya bagi yang memiliki tiga orang anak perempuan, bahkan seorang anak perempuan pun, bilamana ia memberikan tempat tinggal, mengasihi dan menanggung mereka, maka dipastikan ia masuk surga. (HR.Ahmad)

Berbahagialah karena mendapatkan rizki berupa anak-anak, yang merupakan kebaikan-kebaikan bagimu kelak setelah meninggalkan dunia yang fana ini. Bila kamu memberikan pendidikan yang baik kepada mereka, niscaya mereka akan

menjadi anak-anak yang shalih lagi beriman. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Bila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: Sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya." (HR. Muslim).

Semoga kita tidak menyia-nyiakan peluang yang teramat berharga ini ...

(SUMBER: "Ila Shahib al-'Iyal", Divisi Ilmiah Pada Penerbit Dar Ibn Khuzaimah, Riyadh), Abu Shofiyyah

Jumat, 22 Juni 2012

Perang Do'a

Jumat, 22 Juni 2012

Oleh Aba Abdir Rahman*


Perang Badar dikenal juga dengan sebutan al Furqan, karena:

  • Dengan perang ini menjadi jelaslah siapa pendukung Al Haq dan siapa pendukung Al Bathil.
  • Dengan perang ini menjadi jelaslah mana kubu pembela kebenaran dan mana pula kubu pembela kebatilan.

Hari terjadinya peperangan ini juga disebut yauma ittaqal jam’an (QS. Al Anfaal:41), yang bermakna hari bertemunya dua kekuatan, kekuatan syirik dan kekuatan tauhid, kekuatan iman dan kekuatan kufur, kekuatan hizbullah dan kekuatan hizbusy-syaithan.

Perang Badar bukanlah kehendak kaum Muslimin. Bahkan, banyak diantara mereka yang pada awalnya merasa tidak siap. Al Quran menggambarkan sikap dan psikologis mereka sebagai berikut:

كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ (٥
يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ (٦

”Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran[596], padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya. Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).”(Q.S. Al An faal : 5-6).

[596] Maksudnya: menurut Al Maraghi: Allah mengatur pembagian harta rampasan perang dengan kebenaran, sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula. menurut Ath-Thabari: keluar dari rumah dengan maksud berperang.

Pada awalnya, yang diinginkan pasukan Islam adalah sebatas menghadang kafilah dagang Quraisy yang hanya dilindungi oleh sejumlah kecil pasukan (empat puluh orang pasukan saja). Dalam kalkulasi manusiawi, sangat mudah dan tidak sulit menaklukan kafilah dagang itu. Sebab, waktu itu jumlah pasukan Islam adalah 313 orang.

Terkait dengan hal ini Allah Swt berfirman:

”Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah[597] yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir,” (Q.S. Al An faal : 7).

[597] maksudnya kafilah abu Sofyan yang membawa dagangan dari Siria. sedangkan kelompok yang datang dari Mekkah dibawah pimpinan Utbah bin Rabi’ah bersama abu Jahal.

Dari sisi perekonomian, kafilah dagang inilah yang lebih membawa keuntungan bagi kaum Muslimin. Sebab, kafilah Quraisy saat itu adalah yang terbesar, hampir seluruh penduduk Mekah ikut menanamkan sahamnya pada perjalanan dagang itu.

Namun, kehendak Allah Swt. Berbeda dengan yang diinginkan kaum Muslimin. Yang dikehendaki Allah adalah bagaimana agar Al Haq itu menjadi nyata, dan yang Baitl itu menjadi jelas kebatilannya.

Terkait dengan ini Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ (٧)لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ (٨

”Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah[597] yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (Q.S. Al An faal : 7-8).

[597] maksudnya kafilah abu Sofyan yang membawa dagangan dari Siria. sedangkan kelompok yang datang dari Mekkah dibawah pimpinan Utbah bin Rabi’ah bersama abu Jahal.

Pada pihak yang berlawanan, keinginan Abu Sufyan, pemimpin kafilah dagang Quraisy, bukanlah terjadinya peperangan. Ia hanya menginginkan agar dagangannya itu selamat sampai di Mekkah.

Namun, Abu Jahal –yang betul-betul jahil– mempunyai keinginan lain. Ia dengan arogan, takabur dan riya’ mengatakan “ Demi Allah! Kita tidak akan kembali sebelum sampai di Badar. Kita akan tinggal di sana selama tiga hari, menyembelih unta, menenggak khamr, dan menikmati nyanyian para biduanita. Akhirnya, seluruh orang Arab mengetahui tentang perjalanan dan perkumpulan kita, sehingga mereka senantiasa takut kepada kita.” (Ibnu Hisyam).

Singkat cerita, berhadapanlah dua kekuatan itu di Badar. Dengan kehendak dan takdir Allah, seluruh personel kaum Muslimin telah siap menghadapi apa yang akan terjadi besok.

Pada malam menjelang pertempuran, Rasulullah saw. memohon kepada Allah Swt., dengan sebuah permohonan yang penuh kepasrahan, ketundukan, dan kekhusyukan. Beliau terus memanjatkan doa, sampai-sampai selendang (sekarang baju) beliau terjatuh dari pundaknya. Bahkan, Abu Bakar sampai berkata, ”Cukup, wahai Rasulullah,cukup wahai Rasulullah.” Dalam doanya itu beliau serahkan kelangusngan umat yang menghamba Allah Swt ini kepadaNya. Beliau berdoa, ””Jika sekelompok umat ini binasa, Engkau (ya Allah) tidak akan disembah lagi di bumi.”

Pada kelompok yang berseberangan, Abu Jahal pun memanjatkan doanya kepada Allah Swt. Ia berkata, ”Ya Allah! Dia (maksudnya Nabi Muhammad saw.) telah menyebabkan hubungan persaudaraan (silaturrahim) antarsesama kami terputus, dia telah datang kepada kami dengan sesuatu yang tidak kami kenal, karenanya, hancurkanlah dia esok hari.”

Inilah satu sisi dari perang Badar, di mana pada malam menjelang pertempuran yang furqan itu telah terjadi peperangan yang lain, yaitu perang doa.

Satu doa dipanjatkan oleh seseorang yang tidak pernah berdusta. Seorang yang berpredikat Al Amin; seseorang yang ’azizun ’alaihi ma ’anittum harishun ’alaikum bil mukminiina rauufur-rahim (Q.S. At-Taubah : 128); seseorang yang oleh Allah Swt dinyatakan sebagai ’ala khuluqin azhim, yaitu Rasulullah Saw.

Pada sisi lain, ada doa yang dipanjatkan oleh seorang yang menghabiskan segala potensinya untuk menghambat dan menghalangi dakwah Allah Swt., yaitu Abu Jahal.

Malam itu telah terjadi perang doa, antara seseorang yang tawadhu (rendah hati), tawakkal (penuh kepasrahan kepada Allah), khusyuk (takut yang disertai pengagungan kepada Allah), bercita-cita mulia (yaitu terwujudnya penyembahan kepada Allah) dengan seseorang yang congkak, arogan, riya’ dan bercita-cita kotor (minum khamr, bermain dengan perempuan, sok dan diktator).

Al Quran dan sejarah mencatat bahwa Allah Swt berpihak kepada Nabi Muhammad saw., dan tidak berpihak kepada Abu Jahal.

Al Quran dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada seorang hamba yang penuh amanah, selalu berusaha untuk tidak membebani umatnya, bersemangat dalam mengupayakan kemaslahatan mereka, penuh sayang dan belas kasihan.

Al Quran dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada pemilik akhlak yang agung.

Al Quran dan sejarah mencatat bahwa kemenangan berpihak kepada kelompok yang penuh kepasrahan kepada Allah Swt., penuh tawakal kepada-Nya, bercita-cita mewujudkan upaya ubudiatul khalqi lillah (penghambaan seluruh makhluk kepada Allah Swt. semata).

Al Quran dan sejarah mencatat bahwa kemenangan itu berpihak kepada golongan yang pemimpinnya menghabiskan malam harinya untuk menjalin hubungan dengan Allah Swt., berdoa kepadaNya, sampai-sampai bajunya terjatuh tanpa dirasa, sehingga dia diingatkan oleh sahabatnya.

Al Quran dan sejarah mencatat bahwa kemenangan tidak berpihak kepada golongan yang arogan, riya’, sok dan diktator.

Al Quran dan sejarah mencatat bahwa kemenangan tidak diberikan kepada golongan yang bercita-cita keji dan mungkar.

Saudara-saudara yang dicintai Allah …

Masih banyak ibrah dan pelajaran yang bisa kita gali dari peristiwa Badar, peristiwa yang terjadi 1418 tahun yang lalu. Peristiwa yang kejadiannya diabadikan dalam Al Quran.

Adanya pengabadian dalam Al Quran ini tentunya menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, ibrah yang tersurat ataupun tersirat padanya tidaklah berhenti sebatas peristiwa sejarah, tetapi pasti dan sudah tentu akan senantiasa terulang dan terulang, sampai kiamat nanti.

Sunnatullah itu pasti terulang, bila berbagai variabel yang melingkupinya pun berulang, sebab tidak ada perubahan pada sunnatullah dan ia sama sekali tidak akan berganti.

Kita harus yakin bahwa kemenangan pasti berpihak kepada para pembela kebenaran, karena hal ini adalah sunnatullah. Akan tetapi, sunnatullah yang melingkupi dan menjelaskan syarat-syarat terwujudnya kemenangan itu harus ada pada para pendukung kebenaran itu. Gali dan renungilah berbagai variabel yang ada pada sunnatullah itu; sunatullah yang menggoreskan kemenangan gemilang bagi kaum Muslimin pada peristiwa Badar! Penuhi seluruh persyaratan-persyaratan yang ada, niscaya sunnatullah itu akan terulang, sehingga kita pun akan melihat kemenangan yang gemilang bagi kejayaan Islam dan kaum Muslimin!

HadanaLlahu wa iyyakum ajma’in, wawaffaqana lima yuhibbuhu wayardhahu, wa-a’anana ’ala imtitsali dzalika.

Semoga Allah Swt. memberikan hidayah kepada kita seluruhnya, memberikan taufik-Nya kepada kita untuk menjalani segala hal yang dicintai dan diridai-Nya, dan memberikan pertolongan untuk menjalani itu semua. Amiin!

Rabu, 13 Juni 2012

4 Faktor Kebahagiaan: Isteri-Rumah-Tetangga-Fasilitas | Kajian Hadits




أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ : الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيء


"Empat faktor kebahagiaan; Wanita (isteri) shalihah, rumah yang lapang, tetangga yang shaleh dan kendaraan yang nyaman." (HR. Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al-Arna'uth)


Hadits ini memberikan isyarat tentang 4 faktor rumah yang ideal;


1- Penghuninya adalah orang-orang shaleh

Penghuninya adalah orang-orang yang beriman kuat dan taat beribadah serta selalu tebar pesona dengan akhlak mulia. Rasulullah saw mengajarkan agar jangan menjadikan rumah kita seperti kuburan yang tidak dilaksanakan ibadah di dalamnya. Dianjurkan agar kita shalat sunnah di rumah dan membaca Al-Quran di dalamnya serta berbagai aktifitas ketaatan lainnya. Juga diajarkan agar setiap anggota keluarga memperlakukan anggota keluarga lainnya dengan baik, suami terhadap isteri dan isteri terhadap suami, orang tua terhadap anak-anak, dan anak terhadap orang tua.


2- Desain rumahnya layak syar'i

Di sini Rasulullah saw memesankan agar rumah kita lapang. Menjadi ruang nyaman untuk berteduh dan kembali dari kepenatan di luar serta nyama untuk bercengkrama. Rumah sebaiknya dapat menjaga privacy dari pandangan luar. Juga ada ruang privacy di dalam, karenanya diajarkan agar ruang orang tua terpisah dengan ruang anak. Tempat tidur anak-anak terpisah satu sama lain. Jika berlainan jenis, ruangnya juga sebaiknya terpisah. Dll. Namun segala sesuatu disesuaikan dengan kemampuan.


3- Lingkungan yang baik

Rumah sebagus apapun, jika lingkungannya tidak sehat, tidak akan membuat penghuninya betah. Cari lingkungan yang baik bagi tempat tinggal kita. Atau kalau tidak, hendaknya berperan aktif menciptakan lingkungan yang baik dengan berdakwah dan berbagai agenda sosial yang positif. Disinilah hikmah ajaran Islam agar kita berbuat baik dengan tetangga dan berdakwah kepada lingkungan terdekat.


4- Fasilitas memadai

Disini disimpulkan dengan kendaraan yang nyaman. Intinya adalah bagaimana agar berbagai fasilitas yang ada dapat membantu mobilitas dan aktifitas kita sehari-hari. Tidak ada masalah dengan berbagai fasilitas modern kalau semua itu dapat membantu mobilitas dan aktifitas positif kita. Di sini penting setiap anggota keluarga menyibukkan diri dengan berbagai agenda positif, dengan begitu maka berbagai fasilitas akan terbawa dan termanfaatkan untuk hal-hal yang positif dan semakin menambah nilai pahala. Berbeda jika berbagai fasilitas moderen tersedia, namun penghuninya minim dari agenda positif, akibatnya semua itu hanya menjadi sarana hura-hura dan leha-leha, bahkan bisa jadi menjadi sarana keburukan dan kemaksiatan…


Wallahua'lam.
Abdullah Haidir, Lc