Minggu, 14 Juli 2013

Kabar Gembira dan Sebuah Bata

Masih hening sukma-sukma dalam renungan atas keagungan doa Ibrahim ‘Alaihis Salam, ketika Sang Nabi, mentari di hati para sahabatnya itu kembali bersabda, “Dan aku adalah kabar gembira yang dibawa oleh ‘Isa ‘Alaihis Salam.”
“Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab [yang turun] sebelumku, yaitu Taurat. Dan memberi kabar gembira dengan [datangnya] seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad..” (QS Ash Shaff [61]: 6)
Memang engkau ya RasulaLlah, adalah kabar gembira. Nubuat tentangmu dikabarkan para Nabi sebelummu dengan berseri-seri penuh  kesyukuran. Mereka menyebut Himdah, Periklitos, Bar Nasha, Adonis, Maitreya, dan semua sanjungan tentang risalah yang akan memenuhi ufuk, dari tempat terbit mentari hingga terbenamnya.
Engkaulah imam bagi mereka dalam shalat yang ditunaikan di Masjidil Aqsha nan suci, beberapa saat jelang keberangkatanmu bermi’raj ke haribaan Ilahi. Engkaulah yang disambut Adam, Yahya serta ’Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim di tiap lapis langit dengan doa yang mesra. Engkaulah penutup, bagi matarantai terhubungnya bumi dengan langit.
Segala keutamaanmu adalah kesempurnaan. Dan kerendahan hatimu pada mereka menjadikan kemuliaan dirimu tak tergapai oleh seorang makhluqpun. Inilah kami menitikkan  airmata, saat Imam Al Bukhari membawakan riwayat berisi permisalan yang kaubuat tentang dirimu dengan para Nabi yang memancangkan tapak-tapak Tauhid sebelum engkau dibangkitkan.
“Perumpamaan antara aku dengan para Nabi yang diutus sebelumku”, ungkapmu, “Adalah seperti orang yang membangun sebuah rumah lalu membaguskan dan memperindahnya. Hingga tersisa sebuah labinah, ceruk di mana satu batu-bata belum terpasang pada dinding samping rumah tersebut. Maka orang-orang pun mengelilingi dan mengaguminya seraya berkata, ‘Duh, betapa baiknya jika batu-bata terakhir dipasang pada tempatnya agar rumah ini sempurna.” Akulah batu bata terakhir itu. Akulah penutup para Nabi.”
Inilah kami, ummatmu yang berbahagia dengan kehadiranmu nan rendah hati. Yang menyebut keakuan hanya sebagai sesudut batu di rumah yang indah. Yang memandang diri cuma bak sebatang bata penggenap sempurnanya sebuah bangunan.
“Rabbku mengajariku Adab”, lagi-lagi kau bertawadhu’ bahwa semua kemuliaanmu adalah karuniaNya, seperti tercantum dalam riwayat At Tirmidzi, “Maka Dia membaguskan adab-adabku.” Dan adab da’wahmu adalah kerendahan hati. Sebab kebenaran tak dapat disampaikan oleh insan yang merasa tinggi. Sebab orang benar yang angkuh, akan merusak rasa hormat semesta pada kehakikian itu sendiri.
“Dan berilah peringatan pada kaum kerabatmu yang terdekat. Dan rundukkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang mukmin.” (QS Asy Syu’ara  [26]: 214-215)
Inilah engkau yang menjadi jalan hidayah bagi semesta, rahmat dan cahaya yang menerangi gelap hati, Allah menuntunmu untuk merundukkan diri. Sebab bagi hati yang merunduk tak ada lagi kerendahan tuk jatuh. Sebab dalam hati yang merunduk, terbuncah cinta yang utuh. Sebab atas hati yang merunduk, segala kepongahan akan takluk. Sebab pada hati yang merunduk, cinta manusia mengalir teruntuk. Sebab terhadap hati yang merunduk, semesta akan bertepuk.
Tapi segala ketundukan dan kekhusyukan hatimu hanyalah untuk mengundang cintaNya, bukan sorak-sorai manusia.
Maka izinkan kami belajar darimu wahai hati yang merunduk. Bahwa jika diri merasa besar, kami harus memeriksa hati. Mungkin ia sedang bengkak. Jika diri merasa suci, kami harus memeriksa jiwa. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani. Jika diri merasa tinggi, kami harus memeriksa batin. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan. Dan jika diri merasa wangi, kami harus memeriksa niat. Mungkin itu asap dari ‘amal shalih yang hangus dibakar riya’.
Shalawat dan salam bagimu duhai Nabi yang rendah hati; yang terpuji di langit dan bumi.
sepenuh cinta {termuat dalam UMMI, Juli}
salim a. fillah

Minggu, 12 Mei 2013

Ini Dia Bra Penampung ASI Karya Siswi SMA 6 Yogyakarta

Rachmadin Ismail - detikNews

 dok.pribadi
 
Jakarta - Siswi SMAN 6 Yogyakarta Devika Asmi Pandanwangi berhasil menyabet juara pertama lomba penemu muda Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonsia (LIPI) dengan karya 'bra penampung dan pensteril ASI'. Bagaimana bentuk inovasinya?

Devika juara I dalam ajang National Young Inventor Award (NYIA) yang digelar LIPI. Atas prestasinya, dia diganjar hadiah Rp 8 juta dan medali, serta tiket ke lomba sejenis tingkat ASEAN di Malaysia pada tahun 2013 mendatang.

Menurut juri, karya Devika unik, orisinil, dan bisa digunakan dengan mudah. Tak heran, banyak ibu-ibu yang berminat dengan hasil karyanya.

Lalu, darimana ide itu muncul? Menurut Devika, dia menciptakan alat tersebut untuk sang ibunda tercinta. Kala itu, ibunya kerap mengalami kebocoran ASI saat kerja. Alhasil, ASI ibunya terbuang percuma.

"Akhirnya saya buat bra itu. Pake cup, lalu di dalam bra dipakai selang, sama kantong plastik dan aluminium foil," ujar Devika saat berbincang lewat telepon, Jumat (28/9/2012).

Menurut Devika, ASI yang ditampung dalam aluminium foil itu steril dan bisa bertahan hingga 4 jam sebelum diberikan ke bayi. Jumlah ASI yang ditampung juga cukup banyak.

Berapa biaya pembuatannya? Devika memastikan tak keluar duit lebih dari Rp 200 ribu. Biaya termahal, menurut dia, untuk pembelian cup di dalam bra.

"Harga cup-nya Rp 100 ribuan," imbuhnya.

Saat dipamerkan di LIPI 25 September 2012 lalu, karya ini mendapat perhatian paling banyak dari kalangan ibu-ibu. Mereka penasaran, bahkan ada yang sudah memesan untuk memilikinya. Seorang pemodal pun sudah mengontak Devika untuk produksi massal.

"Namun masih banyak kekurangan. Penghubungnya bisa lebih bagus bahannya, atau kantong plastiknya bisa mencairkan ASI, aluminium foilnya dikecilkan. Nanti diperbaiki," jelasnya.

(mad/nwk)

Juara di Malaysia, Ini Sepatu Anti-Pelecehan Seksual Temuan Siswa SMP

Prins David Saut - detikNews
 
Foto: David

Jakarta - Hibar Syahrul Gafur pelajar dari SMPN 1 Bogor tersenyum ketika kembali menginjak Indonesia dari ajang International Exhibition of Young Inventors (IEYI) di Malaysia. Ia meraih medali emas dalam ajang tersebut berkat temuannya: sepatu anti-pelecehan seksual.

"Ide dari saya sendiri, soalnya saya nonton TV banyak pelecehan seksual. Terus saya juga lihat sepatu wanita seperti high heels, wedges, atau apa saja," kata Hibar di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Minggu (12/5/2013).

Prototipe yang ia bawa adalah sepatu jenis wedges berwarna putih. Dua tembaga tampak menghiasi sol bagian depan sepatu tersebut. Tampak cantik dengan kilau tembaga, namun jangan coba-coba menyentuh tembaga tersebut, karena bertegangan 450 volt.

"Posisi switch-nya on, lalu nyala menggunakan komponen sirkuit. Dari baterei 9 volt, akan mengalir ke sirkuit, di dalam komponen sirkuit tegangan dinaikan dan dirubah menjadi arus listrik yang mencapai 450 volt," ujar Hibar.

Bocah yang baru berumur 14 tahun pun menceritakan uji coba tak sengaja yang ia lakukan. Kelinci percobaannya adalah gurunya, itu pun tanpa sengaja saat gurunya bertamu dan melihat hasil karya Hibar.

"Itu terjadi nggak sengaja, guru saya lagi mengobrol sama ayah saya. Terus dia menyalakan tombol on, terus terpegang, dia kesetrum, langsung lemas," ujar Hibar.

Namun Hibar dengan yakin menyatakan penemuannya aman untuk pemakai, tes di permukaan air pun membuktikan temuannya aman. "Tidak ada kendala buat pemakai, aman, soalnya pemicunya ada di depan. Jadi aman buat pemakai, termasuk anti air," ujar anak dari seorang prajurit TNI ini.

Hibar berharap temuannya ini bisa segera diproduksi massal untuk melindungi wanita. Tentunya dengan komponen yang lebih baik, sepatunya pun bisa dipasang di berbagai jenis sepatu wanita.

"Cuman karena ini buatan tangan, kalau produksi pabrik, trafo dan batereinya bisa lebih kecil lagi. Pengen saya ada perusahaan yang mau beli semacam hak cipta ini, jadi bisa diproduksi massal," ujar Hibar.

Hibar adalah salah satu dari tiga pemenang medali emas asal Indonesia dalam ajang IEYI ke 9 di Kuala Lumpur, Malaysia. Temuannya menarik kaum hawa yang mengunjungi acara tersebut pada 9 Mei hingga 11 Mei 2013 kemarin.

(vid/mad)

Rabu, 24 April 2013

Rabbi Yahudi Puji Kepemimpinan Walikota Muslim di New Jersey

Mohammed Hammeduddin (kiri) bersama Nati Helfgot (kanan) via onislam.net
Kepala Sinagoga Netivot Shalom, Nati Helfgot memuji kepemimpinan walikota New Jersey, Mohammed Hameeduddin. Secara tulus ia kagum pada usahanya menghilangkan stereotip negatif dan mendorong keharmonisan antarkelompok dan etnis yang berbeda.
“Dia seorang Muslim dan dia seorang pelayan publik yang sangat berdedikasi kepada kelompoknya dan umat agama lain,” kata Nati ketika menerima kunjungan Hammeduddin, Sabtu (6/4).
Nati menilai sosok Hammeduddin merupakan figur yang bisa melakukan berbagai hal, tak hanya pandai berpolitik. Ia seorang yang beriman, dan dekat dengan banyak komunitas, termasuk Yahudi. “Ia sangat profesional,” tambahnya.
Mendapat pujian demikian, Hammeduddin dengan bercanda mengatakan apa yang dikatakan koleganya sebagai ejekan, bukan pujian. “Yang bisa saya katakan di sini, Teaneck adalah tempat yang sangat istimewa. Di sini, kita bisa bertemu seorang Yahudi, Muslim, dan lainnya. Tempat ini merupakan ekosistem toleransi,” ujarnya.
Hammeduddin mengaku keberhasilannya menjaga situasi toleran merupakan hasil peran partisipatif seluruh kelompok agama. “Tentunya, rasa terima kasih yang tulus perlu diberikan kepada kita semua. Saya merasa berkewajiban untuk membuat kota ini lebih baik untuk siapa pun.” katanya.

Redaktur: R.S. Permana

Isyarat Haraki Dalam Surat Yasin ayat 13-27

Isyarat Haraki Dalam
Surat Yasin ayat 13-27
Asbab Nuzul Yasin
Sebelum membahas mengenai tafsir Yasin ayat 13-27, ada baiknya jika kita menelaah sepintas mengenai sebab turunnya Yasin, hal ini berfungsi sebagai tambahan wawasan bagi semua.

Imam al-Suyuti dalam Kitabnya yang berjudul Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul menyebutkan sebuah riwayat yang beliau ambil dari Imam Abu Nu`aim al-Asbahani, bahwa Ibnu Abbas berkata,"Suatu ketika Rasulullah SAW membaca surat al-Sajadah dengan suara yang keras, hingga orang-orang yang berasal dari suku Quraisy merasa kesal dan berdiri menuju Rasulullah SAW untuk menghentikannya. Dengan tiba-tiba, tangan-tangan mereka sendiri bergerak dan mencekik leher mereka, hingga mereka tidak bisa berbicara dan tidak bisa lagi melihat. Maka mereka segera datang kepada Nabi SAW dalam keadaan seperti itu dan berkata,"Allah sangat keras melindungi dan menyayangimu ya Muhammad." Maka Nabi SAW berdoa kepada Allah SWT, dan mereka kembali seperti keadaan semula. Maka kemudian Allah SWT menurunkan Yasin ayat 1-10, meskipun mereka tidak juga beriman seorang pun dengan kejadian tersebut.
Selanjutnya, mari bersama menelaah uraian tafsir Yasin ayat 13-27 berikut:
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (13) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (14)
"Dan sampaikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan (kisah ibrah) mengenai penduduk suatu daerah, ketika datang kepada mereka orang-orang yang diutus."
Ibnu Jarir dalam Tafsir al-Thabari menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Qatadah, bahwa yang dimaksud dalam cerita ini adalah Nabi Isa a.s, ketika beliau mengutus dua orang muridnya dari kaum hawariyin ke Antokiah, yaitu sebuah kota di Romawi/Rum. Penduduk daerah tersebut tidak memprcayai kedua utusan tersebut, hingga Nabi Isa a.s pun mengirim utusan yang ketiga untuk menguatkan keduanya.
Isyarat Haraki dalam ayat ini:
ü  Dalam menyampaikan materi-materi dakwah, lebih efektif dengan menggunakan amtsal/perumpamaan, sehingga lebih mudah difahami oleh objek dakwah, metode inilah yang banyak digunakan dalam Al-Qur'an.
ü  Pentingnya Ma'rifah al-Maidan (keluasan pengamatan dan pengetahuan lapangan) bagi seorang qiyadah dakwah yang mencakup berbagai daerah, tidak hanya daerah yang terdekat dan mudah terjangkau, tetapi juga daerah-daerah jauh dari jangkauan, jika dimungkinkan adanya peluang bagi perkembangan dakwah, ditinjau dari segi kestrategisan daerahnya.
ü  Pengamatan perkembangan dakwah di setiap daerah oleh qiyadah; Dengan mengetahui kondisi detail perkembangan dakwah di sebuah daerah, memungkinkan seorang qiyadah dakwah untuk mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s dengan mengirim utusan dakwahnya yang ketiga.
ü   Kesatuan hati dan kesolidan gerak para aktivis yang diamanakan bertugas dalam satu wilayah dakwah; Isyarat inilah yang dimaksud dalam pernyataan ketiga utusan di atas dengan menyatakan secara bersama-sama bahwa mereka adalah utusan dakwah.
قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ (15) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (16) وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (17)
"Mereka (penduduk daerah tersebut) berkata,"Tidaklah kalian (terlihat di mata kami) melainkan hanya sebagai manusia biasa, dan (sepengetahuan kami) Allah SWT tidak menurunkan sesuatupun, tidaklah kalian (menurut pandangan kami) kecuali hanyalah orang-orang yang berdusta. Mereka (para utusan tersebut) mengatakan sesungguhnya Tuhan kami mengetahui bahwa kami benar-benar adalah utusan dakwah yang diutus kepada kamu sekalian. Dan tidaklah ada kewajiban atas kami kecuali hanya menyampaikan (mengerjakan)"
Ibnu Jarir melanjutkan penjelasan beliau mengenai respon penduduk daerah tersebut setelah datangnya utusan ketiga, dan juga setelah mereka bertiga mengatakan bahwa mereka adalah utusan dakwah yang sengaja didatangkan ke daerah tersebut, penduduk daerah tersebut hanya berkata,"Tidaklah kalian wahai orang-orang yang mengaku sebagai utusan dakwah, melainkan hanya sebagai manusia biasa seperti kami. Jika seandainya kalian adalah utusan yang diamanahkan untuk berdakwah kepada kami, maka seharusnya yang datang bukanlah manusia seperti kalian, akan tetapi seorang malaikat."
Isyarat Haraki dalam ayat ini:
ü  Penentangan terhadap dai adalah sunnatullah dalam dakwah.
ü  Salah satu alasan yang menjadikan objek dakwah menolak dakwah adalah status social dainya. Oleh karena itu, perlu adanya keseimbangan status social antara dai yang ditugaskan dengan objek dakwah yang akan didakwahinya. Seorang pengusaha yang besar dan sukses sebaiknya didakwahi oleh pengusaha yang sama besar dan suksesnya, seorang yang berkedudukan didakwahi oleh orang yang berkedudukan pula. Meskipun peluang untuk ditolaknya dakwah tetaplah ada, sebagaimana kisah di atas. Namun, bukan berarti ketidaksamaan dalam status social kemudian menjadi alasan untuk berdiam diri dari mendakwahi orang-orang yang status sosialnya lebih tinggi. Hal ini dilakukan jika seandainya sudah diusahakan terlebih dahulu, dan yang dihasilkan hanyalah penolakan demi penolakan, sebagaimana kisah di atas.
ü   Keashlian dakwah (meminjam bahasa Ust.Rahmat Abdullah-Semoga Allah merahmati beliau-) haruslah menjadi sebuah hal yang tertanam kokoh di hati seorang dai, yang dengannya lahir sebuah kesadaran dan komitmen untuk berkontribusi dalam barisan dakwah ini, tanpa menunggu dan membutuhkan legalisasi-legalisasi keduniaan yang lain, selain dari legalisasi yang telah disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang mendorong seorang dai untuk berkata,"Sesungguhnya cukuplah Tuhan kami yang mengetahui, bahwa kami benar-benar orang-orang yang diamanahi untuk menyampaikan dakwah ini kepada kalian."
ü  Huruf ta'qid (Huruf Penguat/untuk penekanan makna) dalam kata"Lamursalun" yang berarti "Benar-benar orang yang diutus", menyiratkan makna tentang keyakinan yang kokoh dan mengakar dalam hati seorang dai mengenai hakikat dakwahnya. Ia memahami hakikat dakwahnya bukan sebagai tuntutan wajihah atau pun permintaan hizbnya, tetapi ia menyadari sesadar-sadarnya bahwa yang meminta dan menuntutnya adalah Allah dan Rasul-Nya.
ü  Sering ditemukan dalam dakwah ini orang-orang yang tidak juga terbuka hatinya untuk menerima kebenaran dakwah, meskipun sudah dilakukan berbagai cara untuk mengajak dan memahamkannya. Tidak perlu terlalu jauh, kadang-kadang yang menjadi seperti ini justru adalah salah satu anggota keluarga seorang dai itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, seorang dai haruslah ingat kembali bahwa misi utama yang di embankan kepadanya hanyalah ikhtiar dan terus berikhtiar, adapun urusan hidayah, maka itu adalah hak Allah SWT yang menentukannya.
قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (18) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (19)
"Mereka (penduduk daerah tersebut) berkata, sesungguhnya kami telah ditimpa kesialan dengan (datangnya) kalian, jika kalian tidak berhenti (dari mendakwahi kami), maka kami akan merajam kalian, dan akan menimpakan kepada kalian makar (siksa) yang pedih (keji). Mereka (para utusan tersebut) berkata, sesungguhnya kesialan (malapetaka) yang menimpa kalian adalah karena ulah tangan kalian sendiri, apakah kalian sudah memahami bahwa kesialan kalian adalah karena ulah kalian sendiri? Akan tetapi kalian bahkan sudah termasuk kaum yang sangat berlebihan (dalam maksiat kepada Allah)."
Tsaqofah:
Dalam qiraat yang lain, kata yang digaris bawahi di atas (أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ) dibaca dengan (أَيْنَ ذُكِرْتُمْ), meskipun dengan tidak menimbulkan perubahan makna yang signifikan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pengucapan huruf Kaf. Karena bagi sebagian suku Arab, penyebutan huruf tasydid sesudah dhammah merupakan suatu hal yang sulit karena sangat jarang digunakan dalam bahasa keseharian mereka.
Isyarat Haraki dalam ayat ini:
ü  Pentingnya menumbuhkan dan menjaga sikap al-Syaja`ah (keberanian) dalam diri seorang dai. Dengan adanya syaja'ah dalam dirinya, seorang dai tidak akan mudah mundur, apalagi lari dari medan dakwah dan jihad, hanya karena berhadapan dengan ancaman fisik dan psikis yang disampaikan oleh pihak-pihak yang tidak senang terhadap dakwahnya.
ü  Pentingnya melatih rasionalitas dan memadukannya dengan kemampuan retorika yang memadai bagi seorang dai, agar setiap argument dan hujjah yang disampaikannya mampu ditangkap dengan jelas oleh objek dakwahnya.
ü  Perpaduan antara asy-Syaja'ah (keberanian) dengan kemampuan rasionalisasi yang disudah didukung oleh kemampuan retorika yang memadai, membuat para utusan dakwah dalam ilustrasi ayat di atas, mampu menyangga dan mematahkan setiap tuduhan yang disampaikan terhadap dakwah yang mereka bawa.
وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (20) اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (21)
"Dan datanglah dari sudut kota, seorang laki-laki yang bergegas (terburu-buru), ia berkata,"Wahai kaumku! Ikutilah oleh kalian orang-orang yang diutus ini. Ikutilah oleh kalian orang-orang yang tidak meminta balasan apapun dari kalian ini, karena mereka adalah orang-orang yang sudah mendapat petunjuk."
Imam Ibnu Jarir menyebutkan bahwa laki-laki tersebut bernama Habib bin Murri. Sebuah riwayat yang disampaikan oleh Imam Wahb bin Munabbih al-Yamani menyebutkan dari Ibnu Abas, bahwa ia adalah seorang penduduk Antokiah yang berprofesi sebagai al-jarir (ana belum menemukan terjemah sebenarnya kata ini, hanya saja dalam kamus al-Munawwir dituliskan maknanya adalah kendali dan tali kekang). Ana menduga mungkin maksudnya adalah seorang yang bekerja sebagai gembala hewan ternak, atau sejenisnya. 
Beliau adalah seorang yang berbadan kurus yang bertempat tinggal di salah satu sudut kota, ia berjalan dengan cepat menuju kumpulan kaum tersebut. Beliau adalah seorang yang sangat suka bersedekah. Jika sore hari telah tiba, maka beliau segera mengumpulkan dan menghitung penghasilannya pada hari tersebut dan membaginya menjadi dua bagian, sebagiannya unutk keperluan beliau, dan sebagiannya lagi untuk disedekahkan….subhanallah sekali..
Satu hal yang menarik dari beliau yaitu dengan kondisi tubuhnya yang kurus, kesibukan dan kelelahan beliau mencari nafkah di siang hari, dan juga kondisi tubuhnya yang sudah sangat lemah, tidak membuat beliau lalai dan lemah dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Isyarat Haraki dalam ayat ini:
ü  Seorang kader dakwah sejati haruslah memiliki perhatian dan kontribusi nyata untuk mendukung agenda dan kerja dakwah yang dilaksanakan di sekitar daerah tempat tinggalnya.
ü  Kondisi tubuh, kelelahan dan keletihan yang dialami di siang hari untuk mencari nafkah, bukanlah alasan untuk menurunkan standar amal yaumi yang sudah ditetapkan dan menjadi kebiasaan seorang dai.
ü  Pentingnya Tarbiyah iqtisadiyah (manajemen keuangan rumah tangga) untuk menopang keberjalanan program-program dakwah. Sebagaimana Ust.Rahmat Abdullah –semoga Allah merahmati beliau- katakan bahwa "Brankas kita dalam dakwah ini adalah kantong kita sendiri."
 وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (22) أَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ آلِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ (23) إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (24) إِنِّي آمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ (25)
"Dan ada apakah denganku, jika aku tidak menyembah Dzat yang telah menciptakanku, sedang kepadanya kita semua dikembalikan. Apakah aku akan mengambil tuhan-tuhan selain-Nya, sedangkan jika al-Rahman menimpakan malapetaka kepadaku, maka mereka (tuhan-tuhan tersebut) tidak akan dapat memberikan syafa'at (pertolongan) kepadaku dan tidak pula dapat menyelamatkanku. Sesungguhnya jika aku melakukan yang demikian, maka aku telah berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah aku."
Tsaqofah:
Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai orang yang mengeluarkan perkataan pada ayat terakhir di atas, yaitu,"Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah aku."
Sebagian ulama berpendapat bahwa perkataan ini adalah perkataan yang diucapkan oleh Habib bin al-Murri. Sebagian yang lain berpendapat bahwa perkataan ini adalah perkataan yang disampaikan oleh para utusan sebelumnya.
Setelah menyampaikan perkataan tersebut, maka Habib al-Murri pun dibunuh oleh kaumnya sendiri, hingga ia syahid.
Tsaqofah:
Para ahli tafsir berselisih mengenai cara kaumnya membunuhnya, sebagian mengatakan bahwa ia dirajam (dilempari) batu oleh kaumnya hingga ia meninggal. Namun satu hal yang sangat mengharukan, selama menahan rasa sakit akibat dilempari kaumnya tersebut, ia hanya terus menerus mengucapkan doa,"Wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepada kaumku, wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepada kaumku, wahai Tuhanku, berilah petunjuk kepada kaumku!” beliau tetap mengucapkan doa tersebut hingga meninggal.
Ulama tafsir yang lain berpendapat bahwa kaumnya menjatuhkannya ke tanah secara bersama-sama, lalu kemudian menginjak-injak tubuh kurus beliau hingga meninggal.
Isyarat Haraki dalam ayat ini:
ü  Pentingnya kekokohan pemahaman ketauhidan dan implementasinya bagi seorang dai.
ü  Pentingnya mensyiarkan ketauhidan, hal ini tercermin dalam pernyataan Habib bin al-Murri di atas,"Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhan kalian, maka dengarkanlah aku."
ü  Pentingnya penguasaan rasionalisasi ketauhidan dan konsekuensinya dalam kehidupan seorang dai.
ü  Ketika sebuah agenda dan program dakwah mengalami kegagalan ataupun ketidaksuksesan pada sebuah wilayah, maka yang paling merasa bersalah adalah kader-kader dakwah yang ada pada daerah tersebut. Inilah isyarat yang disampaikan dalam ilustrasi cerita di atas, yaitu beralihnya persoalan dari tiga orang kader dakwah utusan kepada Habib bin al-Murri, sebagai kader dakwah yang ada pada daerah tersebut.
 قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ (26) بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ (27)
"Dikatakan kepadanya (ketika telah meninggal), masuklah engkau ke dalam surga. Ia berkata,"Wahai sekiranya kaumku bisa mengetahui hal ini. Yaitu penyebab Tuhanku mengampuniku, dan menjadikanku di antara orang-orang yang dimuliakan."
Inilah akhir dari cerita ini, yang inti akhirnya adalah akhir yang baik (husnul khatimah) bagi orang-orang yang meninggal dan syahid di jalan dakwah ini. Pada akhir cerita ini, seolah-olah Allah ingin menyingkap rahasia alam kubur kepada setiap aktivis dakwah, bahwa seperti inilah kenikmatan yang diberikan kepada setiap mujahid di kubur mereka. Semoga Allah SWT menjadikan kita satu di antara mujahid yang meninggal karena syahid di jalan-Nya….amien.
Wallahu A`lam
Semoga bermanfaat……….
Bandung, 22 April 2013/12 Jumadil Akhir 1434 H, Pkl.23.17 WIB
Khadim Al-Qur'an wa As-Sunnah
Aswin Ahdir Bolano
Referensi :
Tafsir al-Thabari
Lubab al-Nuqul Fi Asbab al-Nuzul Imam al-Suyuti

Ayah, Keringatmu Beraroma Syurga...

23 April 2013

PKS Nongsa - Seorang ibu dengan bakti dan ketulusannya membesarkan anak - apalagi anak perempuan, berhak mendapatkan surga. "Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini),” dan beliau mengumpulkan jari jemarinya". (HR. Muslim no. 2631). Bukan itu saja, Rasulullah pun menyanjung para ibu seperti dalam hadits: "Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya." (HR Imam Ahmad & Nasa'i). Hadits itu membuktikan betapa berharganya seorang ibu hingga surga bayarannya untuk orang yang berbakti padanya.

Begitulah keterhubungan seorang ibu dengan surga. Lalu, adakah keterhubungan seorang ayah dengan surga?

Ada peran yang cukup fital yang dimiliki seorang ayah dalam keluarganya. Peran yang tak kalah menantang dibanding peran yang dimiliki oleh seorang ibu. Peran yang sarat tekanan, harus dihadapi dengan tenaga, pikiran, dan mental. Bahkan pepatah begitu hebatnya menggambarkan peran ini dalam kata-kata: "Peras keringat, banting tulang."

Mencari nafkah. Itu lah peran yang dimiliki oleh seorang ayah. Sebagai kepala keluarga, seorang ayah punya tanggung menafkahi anggota keluarganya. Bahkan sebelum menjadi seorang ayah, seorang suami punya kewajiban menafkahi istrinya. Seperti itu peran utama seorang kepala keluarga. Lalu adakah hubungannya dengan surga?

Jawabannya, ada!!! Pada keringat seorang ayah, ada pengampunan yang Allah janjikan.

"Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah."" (HR. Bukhari)

Ada banyak hadits tentang keutamaan bekerja. Dan sudah seharusnya kerja keras dan profesional menjadi attribute seorang mukmin. Karena pada profesionalisme, ada kecintaan Allah swt di sana. “Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan hendaknya dilakukannya secara itqon (profesional)”. HR Baihaqi dari Siti Aisyah ra.

Surga sudah selayaknya menjadi balasan bagi seorang ayah. Bila seorang ayah berada di kantor, maka ada tekanan yang dihadapinya dari berbagai penjuru. Tekanan target pekerjaan. Ini hanya sebuah tekanan normal, biasa ada dalam pekerjaan. Tapi biasanya ada pula tekanan lain seperti perilaku atasan yang kurang cocok dengan sang ayah, perilaku rekan kerja yang suka membuat gesekan ketidak-harmonisan, juga perilaku bawahan yang kurang sesuai harapan. Belum lagi bila pekerjaan yang didapat di kantor itu terasa over load. Tekanan seperti ini tidak akan diketahui dan dirasakan oleh seorang anak balita yang gemar bermain, atau anak remaja yang suka bersenang-senang, juga tak dirasakan oleh ibu di rumah walau sedang mengeluh karena anaknya rewel.

Tekanan lain bisa didapat dari susahnya transportasi ke kantor, hingga penghasilan yang dirasa kurang memadai buat keluarganya tercinta. Stressfull.

Bila sang ayah adalah seorang pengusaha, maka lebih hebat lagi tekanannya. Mungkin orang-orang banyak bercita-cita menjadi pengusaha karena melihat kesuksesannya, tapi jarang yang melihat kerja keras seorang pengusaha sebelum menggapai sukses. Kerja keras itu lah yang dihadapi seorang ayah.

Seorang pengusaha dihadapkan pada penghasilan yang tak tetap tiap bulannya. Yang penting memang tetap berpenghasilan. Seorang ayah pekerja kantoran bekerja dari pagi sampai sore. Kadang bekerja lembur. Tapi seorang pengusaha waktu kerjanya adalah 24 jam sehari. Dalam tidur, ia harus siap mendapat panggilan telepon dari pelanggannya. Hal yang susah dimengerti oleh anggota keluarga lain.

Namun ada ampunan Allah pada kesusah-payahan itu. Ada kecintaan Allah pada tekanan-tekanan itu. Rasulullah saw bersabda, ”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas) Atau dalam hadits lain, ”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas). Saat Rasulullah mencium tangan seorang sahabat yang melepuh karena bekerja, Rasulullah berkata, "Inilah tangan yang tak akan disentuh oleh api neraka."

Rasulullah saw juga bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami). “Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)

Bahkan, bekerja keras mencari nafkah ini termasuk bagian dari jihad. ”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Begitulah, menjadi orang tua berarti kita siap berjihad. Seorang ibu berjihad dalam rumahnya membesarkan anak-anaknya. Seorang ayah berjihad di medan usahanya.

Ayah, engkau terhubung dengan surga melalui kerja kerasmu. Maka bergembiralah!!!

* islamedia

Rabu, 17 April 2013


Hanya Allah Sang Penyembuh

Rabu, 31 Maret 2010, 04:29 WIB
Komentar : 0
irwan kelana
Cover buku Allah Sang Tabib
A+ | Reset | A-

Judul buku: Allah Sang Tabib: Kesaksikan Seorang Dokter Ahli Bedah
Penulis: Dr H Briliantono M Soenarwo
Penerbit: Al-Mawardi
Cetakan: II, Februari 2009
Tebal: 275 hlm


Betapa banyak orang yang meyakini bahwa hanya dokter dan obatlah yang bisa menyembuhkan penyakit. Bahkan, tidak sedikit orang yang fanatik berobat hanya ke dokter tertentu, karena mereka yakin hanya dokter tersebutlah yang bisa mengobati penyakitnya. Mereka rela antre berjam-jam hanya agar bisa berobat kepada dokter tersebut. Sebaliknya, kalau dokter tersebut tidak masuk, mereka lebih memilih batal berobat di klinik atau rumah sakit tersebut.

Banyak orang yang percaya bahwa obat tertentu sangat manjur dan menyembuhkan, sekalipun harganya sangat mahal tetap dibeli. Padahal peng obatan itu bisa dimulai dari diri sendiri dan dengan biaya yang murah.

Begitulah fenomena yang terjadi di masyarakat. Mereka cenderung "mendewakan" dokter dan "menuhankan" obat-obatan. Padahal, berapa banyak dokter ahli jantung yang justru terkena penyakit jantung? Berapa banyak dokter ahli ginjal yang justru terkena penyakit ginjal? Berapa banyak dokter ahli yang dirinya, suami/istrinya, atau anak-anaknya terkena penyakit yang merupakan keahliannya sebagai dokter? Berapa banyak anak dokter yang meninggal dunia karena suatu penyakit, padahal fasilitas pengobatannya begitu lengkap, dan ayahnya telah berhasil menyembuhkan ratusan atau ribuan pasien? 

Sebaliknya, ada orang sakit parah yang proses pengobatannya sederhana saja, namun bisa sembuh. Ada orang yang divonis oleh dokter umurnya hanya tinggal tiga bulan lagi, namun ternyata bisa sembuh dan 20 tahun kemudian masih hidup.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa sesungguhnya bukanlah dokter dan obat-obatan yang menyembuhkan suatu penyakit. Ada Dzat Yang Mahakuasa dan Maha Penyembuh. Dialah Allah SWT. Dokter hanyalah alat atau perantara untuk kesembuhan sang pasien. Itulah pesan utama buku ini.

Buku berjudul Allah Sang Tabib ini ditulis oleh seorang dokter yang telah berpraktik hampir 30 tahun lamanya, dan sejak 20 tahun terakhir merupakan dokter ahli bedah tulang. Ia menulis buku ini berangkat dari kemirisannya melihat fenomena yang berkembang di masyarakat, yakni mendewakan dokter dan menuhankan obat-obatan. 

Padahal pengalamannya sebagai dokter hampir tiga dekade mengajarkan banyak sekali hal kepada nya. Bahwa Allah-lah hakekatnya yang menyembuhkan. Sungguh pun demikian, manusia wajib berikhtiar. Karena ikhtiar itu sendiri adalah bukti keimanan seseorang. Ikhtiar itu pun banyak caranya, baik dengan terapi penyembuhan modern, terapi penyembuhan tradisional, dan terutama dengan terapi penyembuhan Nabi .

Penulis menegaskan, ada lima langkah hidup sehat menurut Islam. Pertama, pola hidup sehat, misalnya tidak merokok, tidak mengonsumsi minuman keras, tidak menggunakan obat-obatan terlarang. Kedua, menjaga mulut dari makanan, minuman maupun perkataan yang tidak baik. Ketiga, melakukan olahtubuh. Selain olahraga, justru shalat merupakan olahtubuh yang paling baik. Keempat, obat-obatan. Kelima, dokter atau tabib. "Jadi, dokter hanyalah peringkat kelima atau terakhir, dan urutan ini tidak boleh dibalik-balik," tegas lelaki yang akrab dipanggil Dr Tony ini.

Penulis juga menjelaskan, dalam pengobatan modern, hirarki tertinggi adalah dokter sebagai kapten (pimpinan), di bawahnya ada perawat, dan yang terendah adalah pasien. Dalam pengobatan syariah, yang tertinggi adalah Allah, sedangkan dokter, perawat dan pasien berada dalam posisi sejajar. Dokter tidak lebih tinggi dari pasien. Dokter hanyalah manusia biasa juga, hanya saja ia belajar ilmu kedokteran, namun bukan ia yang menyembuhkan pasien. "Sakit dan sembuh adalah hak Allah," tegas penulis.

Penulis membagi bukunya menjadi enam bab. Bab satu mengupas tentang manusia sebagai makhluk yang luar biasa. Sesungguhnya segala yang ada pada diri manusia merupakan hal yang luar biasa dan menunjukkan kekuasaan Allah Yang Mahakuasa. Dalam bab ini penulis membahas keunikan jantung, otak manusia, hati, jiwa dan akal. Bab dua membicarakan selayang pandang sejarah kedokteran. Baik sejarah kedokteran Barat maupun Islam. 

Bab tiga memaparkan tentang sakit dan ikhtiar. Dalam bab ini penulis menjelaskan bagaimana Islam memandang sakit dan penyakit, serta berbagai hikmah sakit dan adab menjenguk orang sakit. Penulis juga mengemukakan pentingnya ikhtiar dalam pandangan Islam.

Bab empat memperbincangkan Islam dan kesehatan. Di dalamnya dibahas tentang gaya hidup sehat, makanan dan minuman yang dianjurkan, serta kebiasaan makan dan minum ala Rasulullah saw. Bab lima menyajikan sehat sempurna ala Nabi saw, mencakup 35 kebiasaan Rasulullah saw. Bab enam mengupas tentang pengobatan cara Nabi (Thib An-Nabawi), seperti bekam, madu, habbatus sauda, minyak zaitun, kurma, dan ruqyah.

Buku Allah Sang Tabib mendapatkan respons yang sangat baik dari masyarakat. Hanya dalam tempo sebulan, buku ini sudah dicetak ulang. Buku ini meraih nominasi buku terbaik Islamic Book Fair (IBF) ke-9 tahun 2010, yang digelar di Istora Senayan Jakarta, 5-14 Maret 2010. Bersaing ketat dengan 220 judul buku, Allah Sang Tabib berhasil masuk tiga besar.

Buku Allah Sang Tabib hadir di Kuala Lumpur International Book Fair (KLIB) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, 19-28 Maret 2010. Di sana buku ini juga mendapatkan tanggapan yang sangat baik dari masyarakat. Terbukti, dalam pameran tersebut stan Almas Kitab berhasil menjual sekitar 200 eksemplar buku Allah Sang Tabib. Itu pun jumlah pembelian dibatasi, maksimal satu eksemplar, sebab jumlah stok terbatas. 

Pihak Almas Kitab sebagai distibutor buku-buku Islam di Malaysia mengundang Dr Tony hadir di pameran tersebut untuk acara jumpa penulis dan book signing. Buku Allah Sang Tabib juga segera diterbitkan di Malaysia dalam bahasa Melayu oleh PTS Publications & Distributors Sdn Bhd, salah satu kelompok penerbitan terbesar di Malaysia.

Buku Allah Sang Tabib perlu dibaca oleh setiap orang, agar bisa meletakkan dokter dan obat-obatan pada proporsi yang sebenarnya, dan bahwa hanya Allah-lah Sang Penyembuh. Buku ini juga perlu dibaca oleh para dokter, pejabat, politisi maupun para tokoh masyarakat, bahwa sesungguhnya manusia tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa, tanpa idzin Allah. Sesungguhnya, Allah-lah Yang Mahakuasa.
Reporter : irwan kelana
Redaktur : taufik rachman

Senin, 08 April 2013

HUT ke 30

Usiaku masuk ke 30 tahun, usia yang sudah jauh melewati masa baligh, alhamdulillah dari target yang direncanakan sudah aku dapatkan.
1. Punya motor, alhmadulillah tinggal balik nama
2. Jadi khotib jum'at, alhmadulillah pernah pas di garuda food, skrg masih nyari waktu, moment untuk tambah jam terbang, sambil diselingi pembicara di pengajian bulanan di mushola kampung
3. Pengen nikah, alhamdulillah dah nikah, akhwat sholehah, anak jamila, dan yang kedua sedang dikandung menuju 4 bulan

harapan ke depan :
1. Makin bisa jadi teladan di keluarga dengan kesabaran, kebaikan sikap dan ibadah
2. English jadi prioritas, jadi guide di pameran, kerjasama internasional, haji dan umroh pasti pakai bahasa inggris neh
3. Harus mulai menulis buat persiapan fungsional
4. Penelitian fokus dan mulai rancang lebih detail
5. Ambil semua ilmu di penelitian yang sedang dijalani (p alam, p dondy, bu mani)... Semangat
6. Rumah baru dah bisa ditempati dan fokus untuk bayar pelunasan
7. Bikin dan sebar cinta di masyarakat yang baru

Minggu, 07 April 2013

Artikel : 5 Tips menghapal Al Qur'an dari Syaikh Al Ghomidi ( Imam Masjid Nabawi)
Selasa, 02 April 2013 16:34:28 WIB
5 Tips menghapal Al Qur'an dari Syaikh Al Ghomidi ( Imam Masjid Nabawi)
 23  8  31
Imam tamu Masjid Nabawi sekaligus qari’ internasional, Syaikh Sa’ad Al Ghamidi memberikan lima tips yang harus diperhatikan bagi penghafal Al Quran. Tips tersebut harus diperhatikan, khususnya bagi orang yang sama sekali tak bisa berbahasa Arab. Dikutip dari Republika, berikut kelima tips tersebut:

Pertama, harus mempunyai tujuan yang jelas. “Teman-teman Indonesia harus memiliki tujuan yang jelas, apa tujuan antum menghafal Al Quran,” kata beliau.

Kedua, ujar Sa’ad, harus ada lembaga yang menyelenggarakan program menghafal Al Quran. Lembaga ini berfungsi untuk mengkoordinasi mereka yang ingin menghafal Al Quran agar nantinya tidak patah dan berhenti di tengah jalan.

Ketiga, harus ada metode yang digunakan dan tak asal begitu saja. Jika memang ingin sungguh-sungguh, maka mesti ada metode yang dipakai. “Metode yang digunakan harus efektif dan bisa digunakan bagi seluruh kalangan. Sebab, kemampuan masing-masing orang dalam menghafal berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal satu halaman per hari, namun ada juga yang hanya bisa menghafal satu ayat saja per hari,” jelasnya.

Keempat, harus ada mu’allim (guru) yang menjadi rujukan dan mempunyai kemampuan membaca Al Quran dengan baik dan benar. “Jadi mu’allim harus dilihat juga, apakah bacaannya fasih? Apakah hafalan Al Qurannya baik? Apakah dia bisa menjadi qudwah (tauladan) dari kepribadian dan akhlaknya? Jadi memang diperlukan seleksi yang ketat dalam menentukan mu’allim itu,” jelas Syaikh.

Kelima, harus ada follow-up setelah menyelesaikan hafalan Al Quran. Jadi, mereka yang telah merampungkan hafalan Al Quran mereka tidak dibiarkan begitu saja. “Bagi sebahagian madrasah Tahfidz Al Quran hanya menfokuskan santrinya bagaimana mencetak para hafiz Quran. Namun yang tak kalah pentingnya, apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menjadi hafiz Quran?” jelas beliau lagi.

Mengulang dan Berkelanjutan

Lupa menjadi kendala terbesar bagi para penghafal Al Quran. Biasanya, para penghafal tidak sabar dan ingin segera mengkhatamkan bacaannya dan kadang terlalu terburu-buru. Sehingga ayat yang telah mereka hafal tidak sempurna dan menjadi cepat lupa.

Syaikh Sa’ad Al Ghamidi menjelaskan, kunci utama dalam menghafal Al Quran adalah terus mengulang hafalan. Ini yang terus dilakukannya walau pun telah selesai menamatkan Al Quran 30 juz.

“(Penghafal Al Quran) harus senantiasa dengan dua hal, tikrar (mengulang) dan istimrar (berkelanjutan). Ia harus terus mengulang hafalan yang telah dihafalnya dan melanjutkan hafalan barunya,” jelas Syaikh. [fimadani.com]