Senin, 19 November 2012



Muhasabah Awal Tahun 1434 Hijriyah 

Hakikatnya, pergantian tahun tidak ada bedanya dengan pergantian bulan, minggu, hari, jam, atau detik. Bagi seorang muslim, semua pergantian waktu itu harus disikapi dengan sikap yang sama: memperkuat dzikrullah, mengingat Allah ta’ala.

Inilah yang disyaratkan Allah ta’la dengan firman-Nya,
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran, 3: 190 – 191)

Memahami hakikat ini, setiap kita hendaknya mau meluangkan waktu untuk tadzakkur (merenung) dan tafakkur (berpikir). Menyegarkan kembali ruhul ibadah, dengan membiarkan tetesan khauf (takut) membasahi qalbu. Menghirup sejuknya raja’ (berharap), tawakkal (berserah diri), dan  khusyu’ (tunduk), dengan raghbah (penuh minat), dan rahbah (cemas).
Pergantian waktu ini, hendaknya kita gunakan untuk inabah (kembali), isti’anah (memohon pertolongan), isti’adzah (memohon perlindungan), dan  istighotsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan) kepada Allah Ta’ala.

Mari kita bercermin. Adakah ruhani kita tumbuh subur, ataukah kering kerontang? Nafsu manakah yang menguasai jiwa, apakah nafsu amarah bi-shu—yang selalu mendorong pada kejahatan—, nafsu lawwamah—yang mengombang-ambing dalam kebaikan dan kejahatan, ataukah nafsu muthmainnah—yang menentramkan jiwa dalam kebaikan dan ketaatan pada Allah Ta’la ?
Pergantian tahun ini hendaknya menyadarkan kita, tentang pentingnya ri’ayah ma’nawiyah, pemeliharaan maknawi, agar kita terhindar dari penyakit al-wahn  (kelemahan jiwa), hubbud dunya wa karohiyatul maut, cinta dunia dan takut mati; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa mendapat al-ghida (gizi) yang cukup, berupa ibadah yang dibarengi ruh, bukan sekedar rutinitas dan seremonial belaka; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa yang sakit mendapatkan asy-syifa (pengobatan), berupa taubat dan istighfar.

Setahun telah berlalu…
Ada 1700 peluang kewajiban shalat berjamaah. Ia sama dengan 6018 rakaat. Ada peluang 5300 rakaat sunnat rawatib dan witir, ada peluang 420 rakaat qiyamullail, tarawih dan tahajjud…
Berapa banyak peluang di atas yang kita lakukan secara berjamaah? Berapa kali kita shalat berjama’ah di masjid pada barisan pertama? Seberapa besar tingkat kekhusyuan kita dalam shalat-shalat itu? Adakah semua peluang itu mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala?
Ada peluang 92 hari untuk berpuasa Senin dan Kamis, 30 hari peluang berpuasa ayyamul bidh, 1 hari puasa Tasu’a dan 1 hari puasa Asyura
Berapa hari kita isi peluang-peluang itu dengan berpuasa? Berapa banyak kita memanfaatkan fadhilah-nya?
Ingatlah bahwa kekasih kita, Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Barang siapa yang shoum (berpuasa) satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim”.(HR. Bukhari).

Ada peluang 12 kali khatam Al-Qur’an, adakah kita menyempurnakannya dan melakukan tadabbur (perenungan) terhadapnya? Sedangkan satu kali khatam sama dengan 305 juta kebaikan!
Ada peluang 130.000 sedekah wajib yang dapat engkau pergunakan, sebab Rasulullah SAW bersabda,
كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاس عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ
“Setiap ruas tulang pada manusia wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya matahari di mana seseorang mendamaikan antara manusia maka terhitung sebagai shadaqah”.(Bukhari Kitab).
Adakah kita telah menunaikan dan memenuhinya? Atau mengupayakannya semaksimal mungkin atau mendekati maksimal? Atau adakah kita telah bertekad dan berniat?

“Beruntung sekali bagi seseorang yang menemukan banyak istighfar dalam lembaran amalnya”.
Ada peluang 50 pekan di mana kita dapat merealisasikan silaturahim dan mengunjungi kerabat, berbakti kepada orang tua, mengunjungi orang sakit dan memenuhi berbagai kepentingan kaum muslimin…
Berapa banyak kita dapat menemukan amal-amal ini? Berapa banyak amal-amal ini yang kita lakukan secara ikhlas karena Allah dan tidak tercampur oleh syahwat nafsu atau kompetisi dengan orang lain, atau mengejar popularitas atau gegap gempitanya media, atau ikut-ikutan kepada sufaha (orang-orang yang bodoh dan tidak memperhitungkan akhirat)?

Kemudian, coba kita lihat amal yang sudah kita lakukan, berapa besar ukurannya? Berapa berat timbangannya, dan berapa banyak pengaruhnya?
Bandingkan antara kebaikan dan keburukan kita? Lalu lihat, berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan dan berapa banyak pula yang kita dapatkan?
Ingatlah kepada ucapan Ibnu Mas’ud RA, “Saya tidak pernah menyesali sesuatu yang seperti penyesalanku kepada suatu hari di mana matahari terbenam yang menjadi pertanda ajalku berkurang sementara amalku tidak bertambah”
Wahai Rabb kami, sungguh kami telah menzalimi diri. Seandainya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami. Sungguh kami termasuk orang merugi…

Rabu, 07 November 2012

Jus Untuk Tubuh dan Juz Untuk Ruhiyah Kita

5/11/2012 | 19 Dhul-Hijjah 1433 H | Hits: 579
Oleh: Choiriyah
Kirim Print
dakwatuna.com - Hidup sehat, sembuh dari semua penyakit, bersemangat dalam setiap kegiatan dan sukses dunia akhirat menjadi tujuan. Mencoba menerapkan semua yang didapatkan untuk mendapati apa yang diinginkan. Semua tujuan untuk dapat menikmati hidup agar lebih hidup.
Tapi semua akan ada hasilnya, ada maknanya bila metode yang dipakai sesuai dengan bagaimana Rasulullah SAW hidup. Semua berpangkal kepada, dari dan untuk Allah. Kesehatan yang mampu memberikan hanya Allah. Selalu meluruskan niat untuk mendapatkan setiap tujuan, karena pemegang ‘remote’ adalah Allah.
Lagi trend saat ini nge-raw juice. Menaturalkan makanan yang kita konsumsi, dan dijadikan jus agar mudah dikonsumsi oleh tubuh kita. Memang segar, dan lebih nyaman terasa badan ini. Tapi mungkin lebih ‘seger’ saat mampu dipadukan dengan apa yang selalu di gunakan oleh insan pilihan-Nya dalam menjaga kesehatan jasmani dan ruhaninya yaitu dengan puasa, shalat malam dan ibadah lainnya.
Tubuh kita memang bagus mendapatkan jus tapi akan lebih ‘SAKTI’ lagi kalau kita konsumsi Juz untuk ruhiyah kita. Kalau kita semangat nge-jus 3x sehari maka ruhiyah kita juga perlu minimal 1 juz per hari bahkan 3 juz atau lebih. Dengan begitu akan kita rasakan artinya sehat yang sebenarnya, sehat jasmani dan ruhani kita. Agar ruh kita dekat dengan Allah, maka Allah akan menuntun hati dan diri kita untuk menyelesaikan setiap masalah kita.
Hidup bersama Al Qur’an semuanya akan indah tertata, ada surat cinta yang selalu buat hati kita bergetar dan basah karena cinta-Nya. Al Qur’an menjadi pedoman hidup, menjadi kamus bahasa yang mampu dibaca dan dimengerti siapa saja. Nikmat-Nya akan selalu terasa saat kita selalu berdekatan dengan-Nya.
Saat kita semangat untuk memberikan yang terbaik pada tubuh kita, maka kita juga harus semangat memberi yang terbaik untuk ruhiyah kita. Biar seimbang, dan lebih kelihatan hasilnya. Dari puasa banyak sekali yang akan kita peroleh, keajaiban puasa bagi tubuh kita.
Puasa akan mengurangi atau menghentikan sementara proses-proses fisiologis atau metabolisme di dalam tubuh kita, khususnya di saluran pencernaan.  Penghentian proses metabolisme itu membawa empat rangkaian proses yang berdampak besar pada kesehatan
- Pertama membatasi jumlah makanan yang masuk dalam saluran pencernaan
- Kedua, ia telah menurunkan intensitas kerja sistem pencernaan kita
- Ketiga, dengan turunnya intensitas kerja itu, turun pula kemungkinan adanya racun dari dalam tubuh, baik endotoksin (racun dari dalam tubuh sendiri) maupun eksotoksin (racun dari luar tubuh). Berkurangnya bahan yang harus dicerna juga akan membuat tubuh kita tidak memaksakan diri untuk mengeluarkan hormon dan enzim pencernaan secara besar-besaran
- Keempat, puasa ternyata ampuh melindungi dinding sel.  Dinding sel bisa dipertahankan karena radikal bebasnya tidak ada atau dikurangi (karena puasa), maka orang menjadi awet muda
- Ketua Centre for Neuroscience, Health, and Spirituality (C-NET) Doktor Taufiq Pasiak mengatakan bahwa puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. “Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus,” kata Taufik.
- Apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sel saraf itu minimal 21 hari. Menurut Taufik, puasa adalah latihan mental yang menggunakan perantara latihan menahan kebutuhan fisik (makan, minum, seks).
Ada tiga manfaat penting puasa bagi jantung:
  • Puasa melawan tekanan-tekanan yang selalu mendera jantung.
  • Puasa memberikan kesempatan bagi jantung untuk beristirahat
  • Puasa dapat mensterilkan darah. Dengan demikian, puasa memberikan kesempatan pada jantung untuk mengkonsumsi darah bersih.
- Puasa bermanfaat membuat kulit lebih segar, lebih kuat, lebih berseri, dan warna menjadi lebih indah. Dr. Muhammad Al-Dzawahiri, seorang guru besar bidang penyakit kulit di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo, menyatakan, “Korelasi antara makanan dengan penyakit-penyakit kulit itu sangat kuat. Sebab, menjaga diri dari makanan dan minuman dalam kurun waktu tertentu dapat mengurangi kadar air dalam tubuh dan darah.
Hal ini dengan sendirinya menyebabkan pengurangan air dalam kulit. Ketika kadar air dalam kulit menurun itulah terjadi pula peningkatan kekebalan kulit terhadap segala jenis penyakit kulit yang menyiksa dan gangguan kulit akibat bakteri.
- Berkurangnya kadar air dalam kulit juga dapat menurunkan stadium penyakit kulit yang meradang, akut, dan menyebar di sebagian besar tubuh.
Subhanallah…sangat indahnya apa yang telah dianjurkan oleh Allah untuk kita. Dan banyak sekali keajaiban dari setiap ibadah yang kita lakukan. Maka dari itu mendekat kepada Allah akan menyehatkan jasad dan ruhiyah kita.
Keajaiban shalat malam bagi yang rajin melakukannya, bukan hanya mampu membantunya dalam menyelesaikan masalahnya tapi juga mampu memberikan kesehatan jasmani dan ruhani kepada diri yang melakukannya. Banyak contoh-contoh yang sering kita baca dan dengar, kesehatan para insan pilihan-Nya mereka sedikit tidurnya dan banyak tugasnya tetapi mereka mampu memberikan yang terbaik untuk Allah dan sesama. Insya Allah semua penyakit akan disembuhkan, tubuh akan disehatkan, rizki dan lain-lainnya akan didapatkan. Berarti semakin dekat dengan Allah dan membuat pola hidup sehat insya Allah lebih SEHAT dan diberkahi-Nya. Silakan dikaji dan digali dari setiap ibadah yang kita lakukan untuk Allah.
“…Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitannya.dan memberinya rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangkanya.dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan segala keperluannya. Dan Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah membuat ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. Ath Thalaq: 2-3)

Terima kasih tak terkira kepada Allah yang telah memberikan kesehatan… Alhamdulillah, mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Semoga manfaat bagi yang lain.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/23951/jus-untuk-tubuh-dan-juz-untuk-ruhiyah-kita/#ixzz2BbKshJEM

Surat Cinta untuk Suamiku

Oleh: Wulan Ummu Kayyisah
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Alhamdulillah, dua tahun sudah Allah menakdirkan kami bersama mengarungi perjuangan. Saat memulai bahtera ini kami benar-benar memulainya dari bawah, bahkan kami tak memiliki apapun saat itu. Hanya keyakinan kepada Allah bahwa Dia akan senantiasa mencukupkan rizki kami, insya Allah.
”Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar (dari setiap permasalahannya).Dan Dia (Allah) akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”. (QS. At- Tholaq: 2 -3)
Sekarang, ia tengah berlelah-lelah dan berpeluh keringat untuk membangun mimpinya. “Mas ingin Adik bisa hidup nyaman dan berkecukupan”, itu yang sering diucapkannya.  Semoga kedua tangan yang tiap hari dia gunakan untuk berjuang menafkahi kami, termasuk ke dalam tangan-tangan yang takkan pernah tersentuh api neraka. Seperti halnya tangan sahabat nabi Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari, di mana suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengannya. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?” tanya Rasul kepada Sa’ad. “Wahai Rasullullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah tersentuh api Neraka.”
Setiap kali aku marah, maka dengan sabar dia akan memegang ubun-ubunku, dan mengucapkan doa yang sama ketika dulu pertama kali kami shalat bersama, “Allahumma inni asaluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a’udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi. Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.”
Lalu,  ketika seringkali aku bertanya, “Apakah benar Mas mencintai saya?” “Apa bukti Mas mencintai saya?” Maka dia akan berkata, “Dik, ingatkah ketika suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku sendiri’. Saat itu Rasulullah menjawab, ‘Tidak seorang pun di antara kamu yang beriman, sehingga aku lebih dicintainya daripada jiwanya sendiri’. Umar segera menjawab, ‘Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran ini kepadamu, aku mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri’. Begitu mudahnya bagi Umar untuk mengubah cintanya, karena sesungguhnya cintanya kepada Rasulullah bukan sebatas kata-kata melainkan berupa ketaatan dan kerelaan untuk berkorban. Begitu pun dengan mas. Mas mencintai Adik, maka mas akan selalu berusaha memberi yang terbaik untuk Adik.” Ya, sekarang aku pun mengerti. Cinta memang tak selalu berwujud kata-kata romantis, bisikan mesra atau tatapan sayang seperti yang sering digembar-gemborkan drama-drama picisan. Cinta lebih merupakan perjuangan yang tak jarang berlumur peluh dan air mata.
Masih pula kuingat ketika dulu dia bertanya, “Mau menjadi muslimah seperti apa Adik ini?” “KHADIJAH istri yang lemah lembut, senantiasa mendukung dan menyertai suaminya dalam perjuangan. AISYAH istri yang pandai menyenangkan hati, ceria, cerdas. UMMU SALAMAH istri yang bijaksana. ZAINAB istri yang sangat dermawan”. Maka saat itu aku belum bisa menjawabnya, dan begitu pun sekarang. Ah, rasanya malu sekali, aku tak mungkin menjadi seperti wanita-wanita mulia itu. Aku hanya sedang berusaha menjadi sebaik-baik istri baginya, sehingga setiap hari sebelum memejamkan mata, dia selalu dalam keadaan ridha kepadaku.
Suatu hari Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku beri tahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah” Nabi SAW menjawab,” Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata, ‘Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath-Thabrani)
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat kepada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad)

Suamiku…
Ini bukan ikrar biasa
Ini mitsaqon golidzo
Yang ketika kau ucap ikrar itu
Maka ‘Arsy pun ikut bergetar karenanya
Suamiku…
Ini bukan bangunan biasa
Ini adalah bangunan peradaban
yang kan kita susun batu batanya
Bersama Alfatih Alfatih kita
Suamiku…
Ini bukan keluarga biasa
Ingatkah ketika kau katakan akan mewakafkan dirimu dan diri kami?
Maka keluarga ini adalah keluarga dakwah
Keluarga jihad
Suamiku…
Maukah kau kita berkumpul lagi di Surga-Nya?
Maka, jangan pernah berhenti mendidik kami
Seperti Imran dan Luqman mendidik keluarganya

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/23966/surat-cinta-untuk-suamiku/#ixzz2BavGYue5

Senin, 05 November 2012

Kak Seto: Mendidik Anak dengan Cinta  

Written by 


  Kak Seto
 
                Semua anak Indonesia pada dasarnya cerdas. Hanya saja, cara belajar anak untuk membuktikan kecerdasannya itu berbeda-beda. Cara terbaik mendidik anak, yaitu mendidik dengan cinta.
                
Demikian dikatakan Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak, Dr. Seto Mulyadi, M.Psi, saat seminar  dengan tema “Mengembangkan Potensi dan bakat anak” di gedung Muhammadiyah, Sabtu lalu. Kegiatan itu digelar PGTK Tadika Puri dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-10 Kota Bima.
                Dijelaskan mantan Ketua Komnas PA yang akrab disapa Kak Seto ini, kecerdasan anak memiliki spektrum yang luas. Ada cerdas matematika, cerdas olahraga, cerdas musik, dan lainnya. Seorang anak tidak bisa dipaksakan untuk kecerdasan bidang lain, jika memiliki kecerdasan bidang tertentu.
                Untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), katanya, tidak harus dipaksakan belajar matematika, belajar disco, dan lainnya. Pendidikan mereka harus sesuai dengan perkembangannya yaitu bermain. “Karena hak dasar anak adalah bermain,” katanya.
                Menurutnya, tidak boleh dipaksakan sekolah jika anak masih bayi. Karena yang terjadi nanti, bukannya belajar, tapi mereka  ngompol dan menangis. “Mari kita bangun sekolah untuk anak, bukan anak untuk sekolah,” ujarnya.
                 Seto menegaskan, belajar dan bermain adalah hak dasar anak.  Selain itu, hak tumbuh dan bermain. Sistem pendidikan yang tepat akan mendukung perkembangan karakter anak. Oleh karena itu, belajar bisa di mana saja, tidak mesti dalam ruangan. “Pendek kata, kita harus mendidik anak dengan cinta supaya mereka tumbuh sebagai anak yang pintar dan cerdas,” katanya.

Hari ini adlina lagi rewel, mudah-mudahan motivasi dari kak seto bisa mengilhami saya pribadi, bahwa anak adalah aset ummat, amanah dari Alloh, harus dibesarkan dengan cinta.