Jumat, 14 September 2012

Puasa 6 Hari bulan syawwal

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر

"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun . (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda:

"Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh." ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.)

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. " (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: "Salah satu sanad yang befiau miliki adalah shahih.")

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (tebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya:

1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

2. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta'ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: "Pahala'amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya." Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.

Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

3. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya'ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah 'Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali "(An-Nahl: 92)

4. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa merasa demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah 'Idul Fitri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosam dan berat apalagi benci.

Seorang Ulama salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya pada bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar:

"Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sunggguh di sepanjang tahun."

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah, amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta'ala berfirman :

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) " (Al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala pada bulan Ramadhan adalah disyari'atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya; ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan sahabatnya.

*http://islamic-center.or.id/khasanah/islamic-learnings/ibadah/747-keutamaan-puasa-syawal.html

Makna Dhuha Dalam Al-Qur'an



Makna Dhuha Dalam Al-Qur'an
Senin, 03 September 2012


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi91mBAlsbqkXy_c7kAtOn4Gy6ko-CMB_fYsOvTwSXnXtpy1ysfLuRenJT2gr1XjO89Ooxy8JUoocyixkJCOVgWH4DOLSQzYulTzPdCqNhsmsX8briOPvs66lY0ccdzXPtyzOtF9y-wjBg/s320/dhuha+sholat.jpg
1) Makna #Dhuha dalam AI-Qur'an.

2) Istilah #Dhuha dapat ditemukan pada beberapa tempat dalam Al-Qur'an. kurang lebih pada 7 tempat.

3) Di satu tempat (QS Thaha [20]:59; AI-'Araf [7]:98; An-Nazi'at [79]:46), kata #Dhuha diartikan sebagai "pagi hari".

4) #Dhuha juga memiliki arti "panas sinar matahari" (QS Thaha [20:119]).

5) Istilah #Dhuha juga bisa mencakup kedua makna itu sehingga diartikan "sinar matahari di pagi hari" (QS As-Syams [91]:1).

6) #Dhuha diartikan juga sebagai saat matahari naik sepenggalan (QS Adh-Dhuha [93]:1).

7) Kata #Dhuha dipahami sebagian ulama, sbg cahaya matahari secara umum, atau khususnya kehangatan cahaya matahari. [berdasar 2 surat: addhuha-asysyams]

8) Makna kata #Dhuha ini dapat kita temukan dlm kamus B.Arab. #Dhuha diartikan sebagai forenoon, yakni pagi hari atau sebelum tengah hari.

9) ..atau #Dhuha diartikan dalam bentuk kata kerjanya sebagai become appear/visible 'menjadi tampak atau terlihat'.

10) Dlm Al-Qur'an, kita akan menemukan kata #Dhuha itu diasosiasikan antara lain dengan "saat manusia bermain" (QS Al-'Araf [7]:98).

11) Maksudnya apa? Saat-saat #Dhuha adalah saat kebanyakan kita pada umumnya tengah sibuk "bermain-main" dengan kehidupan dunia.

12) Yg ke-2 istilah #Dhuha dlm Al-Qur'an juga diasosiasikan dg saat2 atau keadaan2 di mana manusia dituntut untuk waspada dan hati-hati.

13) Ke-3, istilah #Dhuha diasosiasikan Al-Qur'an dg saat2 di mana azab Tuhan sangat mungkin terjadi (7:98).

14) Ke-4, stilah #Dhuha juga dikaitkan dg saat2 terjadinya pertarungan/persaingan antara kekuatan baik dan jahat. Musa-Firaun (20:59)

15) Bahkan, istilah #Dhuha ini digunakan Allah sbg sumpahNya ttg sungguh2 terjadinya prtarungan kekuatan jahat dan baik pada diri manusia. (91:1,10)

16) Tentu saja, waktu #Dhuha bukanlah satu2 keadaan ketika pertarungan 'internal/bathin' itu terjadi.

17) Sampai di sini, kita bisa mengetahui makna penting shalat #Dhuha.

18) Dalam konteks seperti inilah, pelaksanaan shalat #Dhuha bisa dipandang sbg sarana kehati2an, kewaspadaan, keterbimbingan..

19) ..dan keterlindungan dlm menghadapi rentannya waktu #Dhuha yg sarat dg berbagai kemungkinan kejadian yg merugikan manusia.

20) Hanya mereka yg ada dlm bimbingan dan lindungan Allah-lah yg bisa selamat dlm melewati waktu #Dhuha dg mendapat keuntungan dan kepuasan.