Selasa, 25 Desember 2012

Jalan Dakwah, seindah-indahnya nuansa kehidupan

Selasa, 25 Desember 2012

Oleh Sardini Ramadhan*
| Pontianak

Jalan dakwah adalah sebaik-baiknya jalan menuju surga. Seindah-indahnya nuansa kehidupan. Sebagus-bagusnya teman menyempurnakan ketaatan. Jalan dakwah adalah jalan yang memberikan begitu banyak tawaran pahala menggiurkan dengan sejuta sensasi kebahagiaan.
Jalan dakwah sudah seharusnya dinikmati selayaknya menerima anugerah kehidupan yang lain. Tak banyak orang yang berada di jalan ini. Dari yang tak banyak itu kita mungkin salah satunya. Kenapa harus kita? Ya memang harus kita, karena kita telah melakukan perjalanan yang jauh dalam menggapai kesempatan untuk bisa berada dijalan ini. Karena kita telah berikhtiar menjemput kesempatan dijalan ini dan ternyata ikhtiar itu tak bertepuk sebelah tangan. Buktinya hari ini, hari sebelumnya dan hari selanjutnya dan insya Allah hingga usia menempuh batas limitnya kita tetap ada dijalan ini.
Jalan dakwah ini memang istimewa. Inilah jalan hidup yang telah dilalui oleh manusia-manusia hebat sekelas para nabi, para sahabat, para tab’i dan tabi’in. Para Shalafusshaleh dan orang-orang besar yang namanya menyejarah hingga kini. Mereka menyejarah karena jalan dakwah yang dilalui. Mereka dikenang karena kesungguhan niat untuk bertahan dijalan ini. Kemudian dengan sangat bersemangat mereka meregenerasi pejuang dakwah selanjutnya. Mereka sadar usia kehidupannya tak lama. Usia kesempatan beramal yang sebentar harus diperlama dengan menghadirkan manusia-manusia dakwah baru. Dengan hadirnya mereka niscaya keberlangsungan dakwah dan tentunya amal kebaikan mereka akan selalu ada.
   
Mereka benar-benar menikmati jalan dakwah. Mereka telah mewakafkan hidupnya untuk berjuang melalu jalan dakwah yang mulia. Mereka isi hidupnya dengan amalan dakwah yang menakjubkan. Mereka adalah orang-orang yang merasakan surga dunia dari aktivitas dakwah yang dilakukannya. Wajahnya bercahaya, kata-katanya menghadirkan rasa takwa yang menggelora, semangatnya menerangi kegersangan hati dari orang-orang sekelilingnya. Begitulah pejuang dakwah , mereka benar-benar menikmati jalan dakwah ini. Mereka hadirkan sensasi pembelajaran yang mencengangkan sejarah.
Surga dunia yang disegerakan untuk mereka telah membuat mereka lupa bahwa saat ini mereka masih tinggal di dunia denga aneka ujiannya. Mereka merasa hari-hari yang telah dilaluinya layaknya kehidupan surga sebenarnya. Tak ada kemurungan wajah dan kegersangan hati. Tak ada masalah yang membuat wajahnya berubah sendu. Ya mereka layaknya penghuni surga dengan segenap kegembiraaan yang tiada berbilang diwajahnya.
Sungguh merugi orang-orang yang telah merasakan jalan dakwah tapi dia tidak menikmatinya. Tidak mendapatkan titisan kehidupan surga dalam perjalanannya. Tidak bahagia sebagaimana kebahagiaan para pengusung dakwah lainnya.
Mari menikmati setiap usaha kita dijalan ini. Ketahuilah lelah-lelah kita, harta bahkan nyawa yang kita korbankan dijalan ini akan tergantikan surga yang indah. Susungguhnya titisan surga itu adalah saat hati kita benar-benar menikmati dengan lahap kelezatan hidup dijalan ini. Selamat menemukan kebahagiaan hidup dijalan dakwah. Selamat menikmati jalan ini hingga usia mengakhirinya.[]

Senin, 19 November 2012



Muhasabah Awal Tahun 1434 Hijriyah 

Hakikatnya, pergantian tahun tidak ada bedanya dengan pergantian bulan, minggu, hari, jam, atau detik. Bagi seorang muslim, semua pergantian waktu itu harus disikapi dengan sikap yang sama: memperkuat dzikrullah, mengingat Allah ta’ala.

Inilah yang disyaratkan Allah ta’la dengan firman-Nya,
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran, 3: 190 – 191)

Memahami hakikat ini, setiap kita hendaknya mau meluangkan waktu untuk tadzakkur (merenung) dan tafakkur (berpikir). Menyegarkan kembali ruhul ibadah, dengan membiarkan tetesan khauf (takut) membasahi qalbu. Menghirup sejuknya raja’ (berharap), tawakkal (berserah diri), dan  khusyu’ (tunduk), dengan raghbah (penuh minat), dan rahbah (cemas).
Pergantian waktu ini, hendaknya kita gunakan untuk inabah (kembali), isti’anah (memohon pertolongan), isti’adzah (memohon perlindungan), dan  istighotsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan) kepada Allah Ta’ala.

Mari kita bercermin. Adakah ruhani kita tumbuh subur, ataukah kering kerontang? Nafsu manakah yang menguasai jiwa, apakah nafsu amarah bi-shu—yang selalu mendorong pada kejahatan—, nafsu lawwamah—yang mengombang-ambing dalam kebaikan dan kejahatan, ataukah nafsu muthmainnah—yang menentramkan jiwa dalam kebaikan dan ketaatan pada Allah Ta’la ?
Pergantian tahun ini hendaknya menyadarkan kita, tentang pentingnya ri’ayah ma’nawiyah, pemeliharaan maknawi, agar kita terhindar dari penyakit al-wahn  (kelemahan jiwa), hubbud dunya wa karohiyatul maut, cinta dunia dan takut mati; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa mendapat al-ghida (gizi) yang cukup, berupa ibadah yang dibarengi ruh, bukan sekedar rutinitas dan seremonial belaka; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa yang sakit mendapatkan asy-syifa (pengobatan), berupa taubat dan istighfar.

Setahun telah berlalu…
Ada 1700 peluang kewajiban shalat berjamaah. Ia sama dengan 6018 rakaat. Ada peluang 5300 rakaat sunnat rawatib dan witir, ada peluang 420 rakaat qiyamullail, tarawih dan tahajjud…
Berapa banyak peluang di atas yang kita lakukan secara berjamaah? Berapa kali kita shalat berjama’ah di masjid pada barisan pertama? Seberapa besar tingkat kekhusyuan kita dalam shalat-shalat itu? Adakah semua peluang itu mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala?
Ada peluang 92 hari untuk berpuasa Senin dan Kamis, 30 hari peluang berpuasa ayyamul bidh, 1 hari puasa Tasu’a dan 1 hari puasa Asyura
Berapa hari kita isi peluang-peluang itu dengan berpuasa? Berapa banyak kita memanfaatkan fadhilah-nya?
Ingatlah bahwa kekasih kita, Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Barang siapa yang shoum (berpuasa) satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim”.(HR. Bukhari).

Ada peluang 12 kali khatam Al-Qur’an, adakah kita menyempurnakannya dan melakukan tadabbur (perenungan) terhadapnya? Sedangkan satu kali khatam sama dengan 305 juta kebaikan!
Ada peluang 130.000 sedekah wajib yang dapat engkau pergunakan, sebab Rasulullah SAW bersabda,
كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاس عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ بَيْنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ
“Setiap ruas tulang pada manusia wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya matahari di mana seseorang mendamaikan antara manusia maka terhitung sebagai shadaqah”.(Bukhari Kitab).
Adakah kita telah menunaikan dan memenuhinya? Atau mengupayakannya semaksimal mungkin atau mendekati maksimal? Atau adakah kita telah bertekad dan berniat?

“Beruntung sekali bagi seseorang yang menemukan banyak istighfar dalam lembaran amalnya”.
Ada peluang 50 pekan di mana kita dapat merealisasikan silaturahim dan mengunjungi kerabat, berbakti kepada orang tua, mengunjungi orang sakit dan memenuhi berbagai kepentingan kaum muslimin…
Berapa banyak kita dapat menemukan amal-amal ini? Berapa banyak amal-amal ini yang kita lakukan secara ikhlas karena Allah dan tidak tercampur oleh syahwat nafsu atau kompetisi dengan orang lain, atau mengejar popularitas atau gegap gempitanya media, atau ikut-ikutan kepada sufaha (orang-orang yang bodoh dan tidak memperhitungkan akhirat)?

Kemudian, coba kita lihat amal yang sudah kita lakukan, berapa besar ukurannya? Berapa berat timbangannya, dan berapa banyak pengaruhnya?
Bandingkan antara kebaikan dan keburukan kita? Lalu lihat, berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan dan berapa banyak pula yang kita dapatkan?
Ingatlah kepada ucapan Ibnu Mas’ud RA, “Saya tidak pernah menyesali sesuatu yang seperti penyesalanku kepada suatu hari di mana matahari terbenam yang menjadi pertanda ajalku berkurang sementara amalku tidak bertambah”
Wahai Rabb kami, sungguh kami telah menzalimi diri. Seandainya Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami. Sungguh kami termasuk orang merugi…

Rabu, 07 November 2012

Jus Untuk Tubuh dan Juz Untuk Ruhiyah Kita

5/11/2012 | 19 Dhul-Hijjah 1433 H | Hits: 579
Oleh: Choiriyah
Kirim Print
dakwatuna.com - Hidup sehat, sembuh dari semua penyakit, bersemangat dalam setiap kegiatan dan sukses dunia akhirat menjadi tujuan. Mencoba menerapkan semua yang didapatkan untuk mendapati apa yang diinginkan. Semua tujuan untuk dapat menikmati hidup agar lebih hidup.
Tapi semua akan ada hasilnya, ada maknanya bila metode yang dipakai sesuai dengan bagaimana Rasulullah SAW hidup. Semua berpangkal kepada, dari dan untuk Allah. Kesehatan yang mampu memberikan hanya Allah. Selalu meluruskan niat untuk mendapatkan setiap tujuan, karena pemegang ‘remote’ adalah Allah.
Lagi trend saat ini nge-raw juice. Menaturalkan makanan yang kita konsumsi, dan dijadikan jus agar mudah dikonsumsi oleh tubuh kita. Memang segar, dan lebih nyaman terasa badan ini. Tapi mungkin lebih ‘seger’ saat mampu dipadukan dengan apa yang selalu di gunakan oleh insan pilihan-Nya dalam menjaga kesehatan jasmani dan ruhaninya yaitu dengan puasa, shalat malam dan ibadah lainnya.
Tubuh kita memang bagus mendapatkan jus tapi akan lebih ‘SAKTI’ lagi kalau kita konsumsi Juz untuk ruhiyah kita. Kalau kita semangat nge-jus 3x sehari maka ruhiyah kita juga perlu minimal 1 juz per hari bahkan 3 juz atau lebih. Dengan begitu akan kita rasakan artinya sehat yang sebenarnya, sehat jasmani dan ruhani kita. Agar ruh kita dekat dengan Allah, maka Allah akan menuntun hati dan diri kita untuk menyelesaikan setiap masalah kita.
Hidup bersama Al Qur’an semuanya akan indah tertata, ada surat cinta yang selalu buat hati kita bergetar dan basah karena cinta-Nya. Al Qur’an menjadi pedoman hidup, menjadi kamus bahasa yang mampu dibaca dan dimengerti siapa saja. Nikmat-Nya akan selalu terasa saat kita selalu berdekatan dengan-Nya.
Saat kita semangat untuk memberikan yang terbaik pada tubuh kita, maka kita juga harus semangat memberi yang terbaik untuk ruhiyah kita. Biar seimbang, dan lebih kelihatan hasilnya. Dari puasa banyak sekali yang akan kita peroleh, keajaiban puasa bagi tubuh kita.
Puasa akan mengurangi atau menghentikan sementara proses-proses fisiologis atau metabolisme di dalam tubuh kita, khususnya di saluran pencernaan.  Penghentian proses metabolisme itu membawa empat rangkaian proses yang berdampak besar pada kesehatan
- Pertama membatasi jumlah makanan yang masuk dalam saluran pencernaan
- Kedua, ia telah menurunkan intensitas kerja sistem pencernaan kita
- Ketiga, dengan turunnya intensitas kerja itu, turun pula kemungkinan adanya racun dari dalam tubuh, baik endotoksin (racun dari dalam tubuh sendiri) maupun eksotoksin (racun dari luar tubuh). Berkurangnya bahan yang harus dicerna juga akan membuat tubuh kita tidak memaksakan diri untuk mengeluarkan hormon dan enzim pencernaan secara besar-besaran
- Keempat, puasa ternyata ampuh melindungi dinding sel.  Dinding sel bisa dipertahankan karena radikal bebasnya tidak ada atau dikurangi (karena puasa), maka orang menjadi awet muda
- Ketua Centre for Neuroscience, Health, and Spirituality (C-NET) Doktor Taufiq Pasiak mengatakan bahwa puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. “Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus,” kata Taufik.
- Apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sel saraf itu minimal 21 hari. Menurut Taufik, puasa adalah latihan mental yang menggunakan perantara latihan menahan kebutuhan fisik (makan, minum, seks).
Ada tiga manfaat penting puasa bagi jantung:
  • Puasa melawan tekanan-tekanan yang selalu mendera jantung.
  • Puasa memberikan kesempatan bagi jantung untuk beristirahat
  • Puasa dapat mensterilkan darah. Dengan demikian, puasa memberikan kesempatan pada jantung untuk mengkonsumsi darah bersih.
- Puasa bermanfaat membuat kulit lebih segar, lebih kuat, lebih berseri, dan warna menjadi lebih indah. Dr. Muhammad Al-Dzawahiri, seorang guru besar bidang penyakit kulit di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo, menyatakan, “Korelasi antara makanan dengan penyakit-penyakit kulit itu sangat kuat. Sebab, menjaga diri dari makanan dan minuman dalam kurun waktu tertentu dapat mengurangi kadar air dalam tubuh dan darah.
Hal ini dengan sendirinya menyebabkan pengurangan air dalam kulit. Ketika kadar air dalam kulit menurun itulah terjadi pula peningkatan kekebalan kulit terhadap segala jenis penyakit kulit yang menyiksa dan gangguan kulit akibat bakteri.
- Berkurangnya kadar air dalam kulit juga dapat menurunkan stadium penyakit kulit yang meradang, akut, dan menyebar di sebagian besar tubuh.
Subhanallah…sangat indahnya apa yang telah dianjurkan oleh Allah untuk kita. Dan banyak sekali keajaiban dari setiap ibadah yang kita lakukan. Maka dari itu mendekat kepada Allah akan menyehatkan jasad dan ruhiyah kita.
Keajaiban shalat malam bagi yang rajin melakukannya, bukan hanya mampu membantunya dalam menyelesaikan masalahnya tapi juga mampu memberikan kesehatan jasmani dan ruhani kepada diri yang melakukannya. Banyak contoh-contoh yang sering kita baca dan dengar, kesehatan para insan pilihan-Nya mereka sedikit tidurnya dan banyak tugasnya tetapi mereka mampu memberikan yang terbaik untuk Allah dan sesama. Insya Allah semua penyakit akan disembuhkan, tubuh akan disehatkan, rizki dan lain-lainnya akan didapatkan. Berarti semakin dekat dengan Allah dan membuat pola hidup sehat insya Allah lebih SEHAT dan diberkahi-Nya. Silakan dikaji dan digali dari setiap ibadah yang kita lakukan untuk Allah.
“…Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitannya.dan memberinya rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangkanya.dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan segala keperluannya. Dan Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah membuat ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. Ath Thalaq: 2-3)

Terima kasih tak terkira kepada Allah yang telah memberikan kesehatan… Alhamdulillah, mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Semoga manfaat bagi yang lain.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/23951/jus-untuk-tubuh-dan-juz-untuk-ruhiyah-kita/#ixzz2BbKshJEM

Surat Cinta untuk Suamiku

Oleh: Wulan Ummu Kayyisah
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Alhamdulillah, dua tahun sudah Allah menakdirkan kami bersama mengarungi perjuangan. Saat memulai bahtera ini kami benar-benar memulainya dari bawah, bahkan kami tak memiliki apapun saat itu. Hanya keyakinan kepada Allah bahwa Dia akan senantiasa mencukupkan rizki kami, insya Allah.
”Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar (dari setiap permasalahannya).Dan Dia (Allah) akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”. (QS. At- Tholaq: 2 -3)
Sekarang, ia tengah berlelah-lelah dan berpeluh keringat untuk membangun mimpinya. “Mas ingin Adik bisa hidup nyaman dan berkecukupan”, itu yang sering diucapkannya.  Semoga kedua tangan yang tiap hari dia gunakan untuk berjuang menafkahi kami, termasuk ke dalam tangan-tangan yang takkan pernah tersentuh api neraka. Seperti halnya tangan sahabat nabi Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari, di mana suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengannya. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?” tanya Rasul kepada Sa’ad. “Wahai Rasullullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah tersentuh api Neraka.”
Setiap kali aku marah, maka dengan sabar dia akan memegang ubun-ubunku, dan mengucapkan doa yang sama ketika dulu pertama kali kami shalat bersama, “Allahumma inni asaluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a’udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi. Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.”
Lalu,  ketika seringkali aku bertanya, “Apakah benar Mas mencintai saya?” “Apa bukti Mas mencintai saya?” Maka dia akan berkata, “Dik, ingatkah ketika suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku sendiri’. Saat itu Rasulullah menjawab, ‘Tidak seorang pun di antara kamu yang beriman, sehingga aku lebih dicintainya daripada jiwanya sendiri’. Umar segera menjawab, ‘Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran ini kepadamu, aku mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri’. Begitu mudahnya bagi Umar untuk mengubah cintanya, karena sesungguhnya cintanya kepada Rasulullah bukan sebatas kata-kata melainkan berupa ketaatan dan kerelaan untuk berkorban. Begitu pun dengan mas. Mas mencintai Adik, maka mas akan selalu berusaha memberi yang terbaik untuk Adik.” Ya, sekarang aku pun mengerti. Cinta memang tak selalu berwujud kata-kata romantis, bisikan mesra atau tatapan sayang seperti yang sering digembar-gemborkan drama-drama picisan. Cinta lebih merupakan perjuangan yang tak jarang berlumur peluh dan air mata.
Masih pula kuingat ketika dulu dia bertanya, “Mau menjadi muslimah seperti apa Adik ini?” “KHADIJAH istri yang lemah lembut, senantiasa mendukung dan menyertai suaminya dalam perjuangan. AISYAH istri yang pandai menyenangkan hati, ceria, cerdas. UMMU SALAMAH istri yang bijaksana. ZAINAB istri yang sangat dermawan”. Maka saat itu aku belum bisa menjawabnya, dan begitu pun sekarang. Ah, rasanya malu sekali, aku tak mungkin menjadi seperti wanita-wanita mulia itu. Aku hanya sedang berusaha menjadi sebaik-baik istri baginya, sehingga setiap hari sebelum memejamkan mata, dia selalu dalam keadaan ridha kepadaku.
Suatu hari Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku beri tahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah” Nabi SAW menjawab,” Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata, ‘Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath-Thabrani)
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat kepada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad)

Suamiku…
Ini bukan ikrar biasa
Ini mitsaqon golidzo
Yang ketika kau ucap ikrar itu
Maka ‘Arsy pun ikut bergetar karenanya
Suamiku…
Ini bukan bangunan biasa
Ini adalah bangunan peradaban
yang kan kita susun batu batanya
Bersama Alfatih Alfatih kita
Suamiku…
Ini bukan keluarga biasa
Ingatkah ketika kau katakan akan mewakafkan dirimu dan diri kami?
Maka keluarga ini adalah keluarga dakwah
Keluarga jihad
Suamiku…
Maukah kau kita berkumpul lagi di Surga-Nya?
Maka, jangan pernah berhenti mendidik kami
Seperti Imran dan Luqman mendidik keluarganya

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/23966/surat-cinta-untuk-suamiku/#ixzz2BavGYue5

Senin, 05 November 2012

Kak Seto: Mendidik Anak dengan Cinta  

Written by 


  Kak Seto
 
                Semua anak Indonesia pada dasarnya cerdas. Hanya saja, cara belajar anak untuk membuktikan kecerdasannya itu berbeda-beda. Cara terbaik mendidik anak, yaitu mendidik dengan cinta.
                
Demikian dikatakan Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak, Dr. Seto Mulyadi, M.Psi, saat seminar  dengan tema “Mengembangkan Potensi dan bakat anak” di gedung Muhammadiyah, Sabtu lalu. Kegiatan itu digelar PGTK Tadika Puri dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-10 Kota Bima.
                Dijelaskan mantan Ketua Komnas PA yang akrab disapa Kak Seto ini, kecerdasan anak memiliki spektrum yang luas. Ada cerdas matematika, cerdas olahraga, cerdas musik, dan lainnya. Seorang anak tidak bisa dipaksakan untuk kecerdasan bidang lain, jika memiliki kecerdasan bidang tertentu.
                Untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), katanya, tidak harus dipaksakan belajar matematika, belajar disco, dan lainnya. Pendidikan mereka harus sesuai dengan perkembangannya yaitu bermain. “Karena hak dasar anak adalah bermain,” katanya.
                Menurutnya, tidak boleh dipaksakan sekolah jika anak masih bayi. Karena yang terjadi nanti, bukannya belajar, tapi mereka  ngompol dan menangis. “Mari kita bangun sekolah untuk anak, bukan anak untuk sekolah,” ujarnya.
                 Seto menegaskan, belajar dan bermain adalah hak dasar anak.  Selain itu, hak tumbuh dan bermain. Sistem pendidikan yang tepat akan mendukung perkembangan karakter anak. Oleh karena itu, belajar bisa di mana saja, tidak mesti dalam ruangan. “Pendek kata, kita harus mendidik anak dengan cinta supaya mereka tumbuh sebagai anak yang pintar dan cerdas,” katanya.

Hari ini adlina lagi rewel, mudah-mudahan motivasi dari kak seto bisa mengilhami saya pribadi, bahwa anak adalah aset ummat, amanah dari Alloh, harus dibesarkan dengan cinta.




Rabu, 24 Oktober 2012

Senyum Rasulullah di Hari Arafah

Kamis, 25 Oktober 2012

Suatu ketika, di saat hari Arafah tiba, Nabi saw tersenyum. Ketika beliau ditanya tentang hal ini, beliau menjawab dengan jawaban yang menggembirakan umatnya sebagaimana terdapat dalam kisah berikut ini.

***

Diriwayatkan oleh al-Abbas bin Mirdas ra, bahwasanya ketika hari Arafah mulai sore, Rasulullah saw berdoa untuk umatnya supaya diberi ampunan dan kasih sayang oleh Allah SWT. Waktu itu Rasulullah saw banyak memanjaatkan doa untuk umatnya dan Allah SWT mengabulkannya.

Allah berfirman, "Aku telah memenuhi permintaanmu dan mengampuni umat mu, kecuali umatmu yang melakukan kezaliman terhadap sesamanya."

Rasul saw berdoa kembali, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau mampu mengampuni orang yang zalim dan Engkau juga mampu memberikan pahala kepada orang yang dizalimi."

Hanya doa ini saja yang dilantunkan berulang-ulang oleh Rasul saw pada sore di hari Arafah itu.

Keesokan harinya, di waktu pagi menjelang meninggalkan Mudzalifah, Rasulullah saw juga berdoa lagi untuk umatnya. Setelah lama berdoa kemudian beliau tersenyum. Sahabat-sahabat bertanya kepada beliau,

"Wahai Rasulullah, kami melihat anda tersenyum di waktu yang biasanya anda tidak tersenyum. Apakah gerangan yang terjadi?"

Rasulullah saw menjawab, "Saya tersenyum melihat tingkah polah musuh Allah, Iblis ketika ia tahu bahwa Allah SWT telah mengabulkan doaku untuk kebaikan umatku dan mengampuni umatku yang melakukan kezaliman. Ketika ia tahu hal itu, ia mengumpat, menghardik, dan menaburi kepalanya dengan debu. Saya tersenyum melihat ekspresi kesedihan dan keputusasaannya". [HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad]


*dikutip dari kitab Iqaadzul Ghaafiliin minal Halakah ilal Harakati lid-Diini karya Khalid Abdul Mu'thi Khalif

Selasa, 23 Oktober 2012

Menjaga, Menata, lalu Bercahaya | Elegi Cinta Salman Al-Farisi

Minggu, 21 Oktober 2012





Oleh Salim A Fillah

 

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan  menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

♥♥♥

Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi mereka adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan mengelola hati. Lalu merekapun bercahaya dalam pentas sejarah.


*dikutip dari: http://salimafillah.com/menjaga-menata-lalu-bercahaya/

Senin, 15 Oktober 2012

Amalan & Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Senin, 15 Oktober 2012



Bulan Dzulhijjah, bulan ke-12 bulan penutup kalender hijriyah sudah di depan mata (insya Allah mulai Selasa malam 16 Oktober 2012).

Berikut kami sampaikan keutamaan dan tuntunan amal di bulan dzulhijjah yang kami susun dari berbagai sumber rujukan.


Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HR al-Bukhari)

Dari Jabir bin Abdullah Rosulullah bersabda: “Hari yang paling utama di dunia adalah hari sepuluh Dzulhijjah”. (Shohihul Jami’)


Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab, [serta menjadi pendapat mayoritas ulama].

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”

Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.


Amal sholih yang dianjurkan:


1. Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah. Kecuali Hari ke-10 (Idul Adha).

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun." [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Puasa Arafah, adalah puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah. Hukumnya sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji.


عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اْلأنْصَارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Dari Abi Qotadah ra, Rosulullah saw bersabda: "Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya". (HR. Muslim no. 196, Tirmizdi no.749 dan Ibnu Majah no 1756)


2. Memperbanyak membaca Tahlil, Takbir dan Tahmid


مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد

"Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".(HR. Ahmad)

Imam Bukhari menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah, mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzulhijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang mengikuti takbir mereka.

Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi'in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzulhijjah


اَللَّهُ أَكْبَرُ الَّلهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالَّلهُ أَكْبَرُ اَلَّلهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, AllAh Maha besar dan bagi Allah segala pujian"

Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.

Allah berfirman:


وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu". (QS. Al-Baqarah: 185).


3. Berkurban

Berkurban adalah ibadah kepada Allah dengan menyembelih seekor kambing atau sepertujuh onta atau sapi pada hari Idul Adha dan tiga hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hukumnya sunnah mu'akkadah menurut jumhur ulama. Ibadah kurban bukan kewajiban sekali seumur hidup, tetapi sunnah yang dianjurkan setiap tahun jika dirinya mampu, bahkan Rasulullah saw ketika di Madinah beliau selalu berkurban setiap tahunnya. Dalam sebuah hadits disebutkan:


عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَال : ضحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا - متفق عليه

Dari Anas ra berkata: “Nabi saw berkurban dengan dua kambing yang mulus dan bertanduk yang disembelihnya dengan tangannya sendiri ambil mengucapkan takbir, beliau meletakkan kakinya di leher kambingnya. (Muttafaq Alaihi)


4. Sholat Idul Adha

Dianjurkan untuk menghadiri sholat Idul Adha dan mendengarkan khutbah bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Di antara para ulama yang membenarkan pendapat bahwa sholat Ied adalah wajib kecuali adanya uzur yang menyebabkan tidak bisa menghadiri sholat ied seperti hujan adalah Imam Ibnu Taimiyah berdasarkan firman Allah: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS. Al-Kautsar: 2)

Kaum wanita yang sedang mendapatkan haidh dan berhalangan dianjurkan juga untuk menghadiri sholat ied untuk mendengarkan khutbah. Di anatara hikmah disyariatkannya hari ied karean hari itu adalah hari kebaikan dan kesyukuran. Wallahu a’alam bisshowab.



5. Banyak beramal shalih, berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur'an, amar ma’ruf-nahi munkar dan lain sebagainya.

Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, bahkan sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya. [admpyg]

Selasa, 09 Oktober 2012

Persiapan Ibadah Haji


al-ikhwan.net - Musim haji kembali tiba, banyak kaum muslimin yang telah bersiap-siap menunaikannya. Sekedar sharing, saya ingin menyampaikan beberapa point yang patut dipersiapkan, baik yang bersifat teknis, maupun non teknis.
Pertama, Bangunlah keikhlasan untuk beribadah, lalu jaga dan rawatlah. Khusus dalam ibadah haji, masalah keikhlasan menjadi sangat rawan, karena tawaran prestise di masyarakat sangat ‘menggiurkan’.  Banyak-banyaklah berdoa kepada Allah agar selalu diberikan keikhlasan seraya selalu menata hati agar tidak tergoda oleh  berbagai hal yang dapat mengurangi keikhlasan.
Kedua, Siapkan pula suasana rohani yang kondusif untuk beribadah. Ibadah haji adalah ‘even ibadah’  yang sangat besar.  Sayang, kalau pada even sebesar itu, kita tidak mendapatkan ‘rasa’ apa-apa  selain hal-hal seremonial. Minimal, seorang jamaah haji hendaknya dapat merasakan ‘sensasi spiritual’ yang menyemangatinya untuk terus lebih dekat dengan Allah. Nah, ibarat seorang  atlit yang akan menghadapi pertandingan besar, maka tentu dia akan melakukan persiapan maksimal untuk meraih prestasi terbaik di even itu, begitu pula halnya dengan calon jamaah haji. Hendaknya dia mempersiapkan kondisi jiwa dan hatinya agar mampu menangkap ‘kucuran’ rahmat Allah Ta’ala padanya.
 Ketiga, Persiapan ilmu dalam ibadah haji atau dikenal dengan manasik haji jangan diabaikan. Tidak cukup belajar sekali dua kali untuk memahami seluk beluk pelaksanaan ibadah haji. Upayakan berulang mempelajari dan membacanya, banyak bertanya dan banyak berkonsultasi kepada yang dianggap paham dengan permasalahan haji, baik yang bersifat teoritis, praktis atau kejadian-kejadian kondisional. Siapkan pula buku panduan yang dapat dibawa untuk menjadi rujukan sewaktu-waktu. Siapkan pula nomor-nomor kontak yang dapat dihubungi jika sewaktu-waktu membutuhkan jawaban atas berbagai pertanyaan. Jika ibadah haji dibimbing oleh mereka yang paham dan berpengalaman akan sangat lebih baik.
Keempat, Persiapan fisik juga tidak kalah penting.  Suasana hati yang kondusif namun tidak didukung kesehatan fisik, juga akhirnya tidak maksimal. Sering-seringlah berlatih jalan kaki, karena hal itu akan banyak dilakukan saat beribadah haji. Tak ketinggalan, persiapkan pula alas kaki yang kuat dan nyaman. Hal itu akan sangat membantu kita menempuh perjalanan jauh yang melelahkan. Sebaiknya jangan mengandalkan beli alas kaki/sandal di miqat, biasanya kurang nyaman dan rawan hilang karena bentuknya sama satu sama lain. Belilah di tempat anda sebelum berangkat, pilih yang terasa paling nyaman di kaki anda, juga yang memiliki bentuk dan warna khas, sehingga mudah dicirikan.
Kelima, Di antara hikmah ibadah haji adalah tarkul ma’luufaat (meninggalkan sesuatu yang  sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari) sebagai pembinaan bagi ruhani agar tidak tergantung terhadap dunia, seperti makanan, pakaian dan berbagai fasilitas kehidupan lainnya yang menjadi serba terbatas.
Hal ini menuntut kita untuk bersiap-siap menghadapi kondisi berat atau apa adanya, tidak cepat mengeluh, sabar menghadapi berbagai kemungkinan yang tak terduga, dan tidak  terlalu beroreintasi mendapatkan fasilitas yang mewah atau maksimal dengan melupakan substansi dari nilai ibadah haji.
Jangan terlalu risih, kalau suatu saat kita harus duduk di atas pasir atau bebatuan, pakaian ihram kita kumal dan berdebu, keringat berkucuran, tidur di atas tikar, berdampingan dengan orang yang berkulit hitam legam, atau sekali waktu ‘nangkring’ di atas bak terbuka.  Justeru kondisi kumal dan dekil itulah yang Allah banggakan dari hamba-Nya, ketika Dia ikhlas mencari ridanya. Namun hal ini bukan berarti kita sengaja membuat diri kita kotor, atau ceroboh mencari rombongan  yang tidak amanah dan suka menelantarkan jamaahnya.
Keenam, Ibadah haji  juga sangat memberikan perhatian terhadap doa-doa yang kita panjatkan. Secara umum, kita dianjurkan banyak berdoa dalam ibadah haji. Secara khusus, ada enam tempat yang kita disunnahkan khusyu berdoa di sana; Di Shafa, Marwa saat Sa’i, Arafah saat wukuf, Muzdalifah setelah mabit dan shalat Shubuh, setelah melontar jumrah Ula, dan setelah melontar jumrah Wustha (kedua).
Karena itu, perbaikilah kualitas doa kita, berlatihlah bermunajat, mengadukan segala keluh kesah kita kepada Allah dan memanjatkan doa-doa panjang, walau dengan bahasa kita sendiri. Belajarlah pula seni berdoa agar kita merasakan nikmat dengan doa tersebut sebelum berharap terkabulnya, seorang salaf ada yang berkata, ‘Kesenangan saya dalam berdoa, melebihi keinginan saya untuk dikabulkan’.  ’Sensasi spiritual’ itu di antaranya dapat kita tangkap di sela-sela doa kita.
Ketujuh, Selain mendekatkan hubungan kita kepada Allah, ibadah haji juga peluang yang sangat besar untuk membangun hubungan kepada manusia, khususnya kepada orang-orang terdekat. Lebih khusus lagi apabila kita berada di luar negeri dan ada kerabat atau kenalan dekat yang datang menunaikan haji. Maka jangan hilangkan kesempatan berharga tersebut untuk menemuinya, walau sesaat, pengaruhnya akan sangat terasa dan kesannya akan sangat dalam. Jangan lupa, siapkan hadiah-hadiah sepantasnya sebagai ‘tanda mata’.
Kedelapan, Kondisi tersesat atau kehilangan benda dan dokumen berharga akan sangat mengganggu kekhusyu’an ibadah anda. Karena itu persiapkan diri baik-baik, jaga kewaspadaan, siapakan tempat yang praktis dan aman bagi benda berharga. Kenali tanda-tanda tempat tinggal anda dengan baik. Alat telekomunikasi sangat membantu, persiapkan pula dengan baik.
Semoga Allah memberikan kemabruran bagi ibadah haji kita semua. Amin.