al-ikhwan.net
- Musim haji
kembali tiba, banyak kaum muslimin yang telah bersiap-siap menunaikannya.
Sekedar sharing, saya ingin menyampaikan beberapa point yang patut
dipersiapkan, baik yang bersifat teknis, maupun non teknis.
Pertama,
Bangunlah keikhlasan untuk beribadah, lalu jaga dan rawatlah. Khusus dalam
ibadah haji, masalah keikhlasan menjadi sangat rawan, karena tawaran prestise
di masyarakat sangat ‘menggiurkan’. Banyak-banyaklah berdoa kepada Allah
agar selalu diberikan keikhlasan seraya selalu menata hati agar tidak tergoda
oleh berbagai hal yang dapat mengurangi keikhlasan.
Kedua,
Siapkan pula suasana rohani yang kondusif untuk beribadah. Ibadah haji adalah
‘even ibadah’ yang sangat besar. Sayang, kalau pada even sebesar
itu, kita tidak mendapatkan ‘rasa’ apa-apa selain hal-hal seremonial.
Minimal, seorang jamaah haji hendaknya dapat merasakan ‘sensasi spiritual’ yang
menyemangatinya untuk terus lebih dekat dengan Allah. Nah, ibarat seorang
atlit yang akan menghadapi pertandingan besar, maka tentu dia akan melakukan
persiapan maksimal untuk meraih prestasi terbaik di even itu, begitu pula
halnya dengan calon jamaah haji. Hendaknya dia mempersiapkan kondisi jiwa dan
hatinya agar mampu menangkap ‘kucuran’ rahmat Allah Ta’ala padanya.
Ketiga,
Persiapan ilmu dalam ibadah haji atau dikenal dengan manasik haji jangan
diabaikan. Tidak cukup belajar sekali dua kali untuk memahami seluk beluk
pelaksanaan ibadah haji. Upayakan berulang mempelajari dan membacanya, banyak
bertanya dan banyak berkonsultasi kepada yang dianggap paham dengan
permasalahan haji, baik yang bersifat teoritis, praktis atau kejadian-kejadian
kondisional. Siapkan pula buku panduan yang dapat dibawa untuk menjadi rujukan
sewaktu-waktu. Siapkan pula nomor-nomor kontak yang dapat dihubungi jika
sewaktu-waktu membutuhkan jawaban atas berbagai pertanyaan. Jika ibadah haji
dibimbing oleh mereka yang paham dan berpengalaman akan sangat lebih baik.
Keempat,
Persiapan fisik juga tidak kalah penting. Suasana hati yang kondusif
namun tidak didukung kesehatan fisik, juga akhirnya tidak maksimal.
Sering-seringlah berlatih jalan kaki, karena hal itu akan banyak dilakukan saat
beribadah haji. Tak ketinggalan, persiapkan pula alas kaki yang kuat dan
nyaman. Hal itu akan sangat membantu kita menempuh perjalanan jauh yang
melelahkan. Sebaiknya jangan mengandalkan beli alas kaki/sandal di miqat,
biasanya kurang nyaman dan rawan hilang karena bentuknya sama satu sama lain.
Belilah di tempat anda sebelum berangkat, pilih yang terasa paling nyaman di
kaki anda, juga yang memiliki bentuk dan warna khas, sehingga mudah dicirikan.
Kelima, Di
antara hikmah ibadah haji adalah tarkul ma’luufaat (meninggalkan sesuatu
yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari) sebagai pembinaan bagi
ruhani agar tidak tergantung terhadap dunia, seperti makanan, pakaian dan
berbagai fasilitas kehidupan lainnya yang menjadi serba terbatas.
Hal ini
menuntut kita untuk bersiap-siap menghadapi kondisi berat atau apa adanya,
tidak cepat mengeluh, sabar menghadapi berbagai kemungkinan yang tak terduga,
dan tidak terlalu beroreintasi mendapatkan fasilitas yang mewah atau
maksimal dengan melupakan substansi dari nilai ibadah haji.
Jangan
terlalu risih, kalau suatu saat kita harus duduk di atas pasir atau bebatuan,
pakaian ihram kita kumal dan berdebu, keringat berkucuran, tidur di atas tikar,
berdampingan dengan orang yang berkulit hitam legam, atau sekali waktu
‘nangkring’ di atas bak terbuka. Justeru kondisi kumal dan dekil itulah
yang Allah banggakan dari hamba-Nya, ketika Dia ikhlas mencari ridanya. Namun
hal ini bukan berarti kita sengaja membuat diri kita kotor, atau ceroboh
mencari rombongan yang tidak amanah dan suka menelantarkan jamaahnya.
Keenam,
Ibadah haji juga sangat memberikan perhatian terhadap doa-doa yang kita
panjatkan. Secara umum, kita dianjurkan banyak berdoa dalam ibadah haji. Secara
khusus, ada enam tempat yang kita disunnahkan khusyu berdoa di sana; Di Shafa,
Marwa saat Sa’i, Arafah saat wukuf, Muzdalifah setelah mabit dan shalat Shubuh,
setelah melontar jumrah Ula, dan setelah melontar jumrah Wustha (kedua).
Karena itu,
perbaikilah kualitas doa kita, berlatihlah bermunajat, mengadukan segala keluh
kesah kita kepada Allah dan memanjatkan doa-doa panjang, walau dengan bahasa
kita sendiri. Belajarlah pula seni berdoa agar kita merasakan nikmat dengan doa
tersebut sebelum berharap terkabulnya, seorang salaf ada yang berkata, ‘Kesenangan
saya dalam berdoa, melebihi keinginan saya untuk dikabulkan’.
’Sensasi spiritual’ itu di antaranya dapat kita tangkap di sela-sela doa
kita.
Ketujuh,
Selain mendekatkan hubungan kita kepada Allah, ibadah haji juga peluang yang
sangat besar untuk membangun hubungan kepada manusia, khususnya kepada
orang-orang terdekat. Lebih khusus lagi apabila kita berada di luar negeri dan
ada kerabat atau kenalan dekat yang datang menunaikan haji. Maka jangan
hilangkan kesempatan berharga tersebut untuk menemuinya, walau sesaat,
pengaruhnya akan sangat terasa dan kesannya akan sangat dalam. Jangan lupa,
siapkan hadiah-hadiah sepantasnya sebagai ‘tanda mata’.
Kedelapan,
Kondisi tersesat atau kehilangan benda dan dokumen berharga akan sangat
mengganggu kekhusyu’an ibadah anda. Karena itu persiapkan diri baik-baik, jaga
kewaspadaan, siapakan tempat yang praktis dan aman bagi benda berharga. Kenali
tanda-tanda tempat tinggal anda dengan baik. Alat telekomunikasi sangat
membantu, persiapkan pula dengan baik.
Semoga Allah
memberikan kemabruran bagi ibadah haji kita semua. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar