Muhasabah
Awal Tahun 1434 Hijriyah
Hakikatnya, pergantian tahun
tidak ada bedanya dengan pergantian bulan, minggu, hari, jam, atau detik. Bagi
seorang muslim, semua pergantian waktu itu harus disikapi dengan sikap yang
sama: memperkuat dzikrullah, mengingat Allah ta’ala.
Inilah yang disyaratkan Allah ta’la
dengan firman-Nya,
Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,
Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran, 3: 190 – 191)
Memahami hakikat ini, setiap kita
hendaknya mau meluangkan waktu untuk tadzakkur (merenung) dan tafakkur
(berpikir). Menyegarkan kembali ruhul ibadah, dengan
membiarkan tetesan khauf (takut) membasahi qalbu. Menghirup sejuknya raja’
(berharap), tawakkal (berserah diri), dan khusyu’ (tunduk),
dengan raghbah (penuh minat), dan rahbah (cemas).
Pergantian waktu ini, hendaknya kita
gunakan untuk inabah (kembali), isti’anah (memohon pertolongan), isti’adzah
(memohon perlindungan), dan istighotsah (memohon pertolongan untuk
dimenangkan atau diselamatkan) kepada Allah Ta’ala.
Mari kita bercermin. Adakah ruhani
kita tumbuh subur, ataukah kering kerontang? Nafsu manakah yang menguasai jiwa,
apakah nafsu amarah bi-shu—yang selalu mendorong pada kejahatan—, nafsu
lawwamah—yang mengombang-ambing dalam kebaikan dan kejahatan, ataukah
nafsu muthmainnah—yang menentramkan jiwa dalam kebaikan dan ketaatan
pada Allah Ta’la ?
Pergantian tahun ini hendaknya
menyadarkan kita, tentang pentingnya ri’ayah ma’nawiyah, pemeliharaan
maknawi, agar kita terhindar dari penyakit al-wahn (kelemahan
jiwa), hubbud dunya wa karohiyatul maut, cinta dunia dan takut mati;
menyadarkan kita tentang perlunya jiwa mendapat al-ghida (gizi) yang
cukup, berupa ibadah yang dibarengi ruh, bukan sekedar rutinitas dan seremonial
belaka; menyadarkan kita tentang perlunya jiwa yang sakit mendapatkan asy-syifa
(pengobatan), berupa taubat dan istighfar.
Setahun
telah berlalu…
Ada 1700 peluang kewajiban shalat
berjamaah. Ia sama dengan 6018 rakaat. Ada peluang 5300 rakaat sunnat rawatib
dan witir, ada peluang 420 rakaat qiyamullail, tarawih dan tahajjud…
Berapa banyak peluang di atas yang
kita lakukan secara berjamaah? Berapa kali kita shalat berjama’ah di masjid
pada barisan pertama? Seberapa besar tingkat kekhusyuan kita dalam
shalat-shalat itu? Adakah semua peluang itu mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala?
Ada peluang 92 hari untuk berpuasa
Senin dan Kamis, 30 hari peluang berpuasa ayyamul bidh, 1 hari puasa Tasu’a
dan 1 hari puasa Asyura…
Berapa hari kita isi peluang-peluang
itu dengan berpuasa? Berapa banyak kita memanfaatkan fadhilah-nya?
Ingatlah bahwa kekasih kita,
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ صَامَ يَوْمًا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ
بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ
عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ
خَرِيفًا
“Barang
siapa yang shoum (berpuasa) satu hari di jalan Allah, maka Allah akan
menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh musim”.(HR. Bukhari).
Ada peluang 12 kali khatam
Al-Qur’an, adakah kita menyempurnakannya dan melakukan tadabbur
(perenungan) terhadapnya? Sedangkan satu kali khatam sama dengan 305 juta
kebaikan!
Ada peluang 130.000 sedekah wajib
yang dapat engkau pergunakan, sebab Rasulullah SAW bersabda,
كُلُّ سُلَامَى مِنْ
النَّاس عَلَيْهِ صَدَقَةٌ
كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ
فِيهِ الشَّمْسُ يَعْدِلُ
بَيْنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ
“Setiap
ruas tulang pada manusia wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya
matahari di mana seseorang mendamaikan antara manusia maka terhitung sebagai
shadaqah”.(Bukhari Kitab).
Adakah kita telah menunaikan dan
memenuhinya? Atau mengupayakannya semaksimal mungkin atau mendekati maksimal?
Atau adakah kita telah bertekad dan berniat?
“Beruntung
sekali bagi seseorang yang menemukan banyak istighfar dalam lembaran amalnya”.
Ada peluang 50 pekan di mana kita
dapat merealisasikan silaturahim dan mengunjungi kerabat, berbakti kepada orang
tua, mengunjungi orang sakit dan memenuhi berbagai kepentingan kaum muslimin…
Berapa banyak kita dapat menemukan
amal-amal ini? Berapa banyak amal-amal ini yang kita lakukan secara ikhlas
karena Allah dan tidak tercampur oleh syahwat nafsu atau kompetisi dengan orang
lain, atau mengejar popularitas atau gegap gempitanya media, atau ikut-ikutan
kepada sufaha (orang-orang yang bodoh dan tidak memperhitungkan
akhirat)?
Kemudian, coba kita lihat amal yang
sudah kita lakukan, berapa besar ukurannya? Berapa berat timbangannya, dan
berapa banyak pengaruhnya?
Bandingkan antara kebaikan dan
keburukan kita? Lalu lihat, berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan dan
berapa banyak pula yang kita dapatkan?
Ingatlah kepada ucapan Ibnu Mas’ud
RA, “Saya tidak pernah menyesali sesuatu yang seperti penyesalanku kepada suatu
hari di mana matahari terbenam yang menjadi pertanda ajalku berkurang sementara
amalku tidak bertambah”
Wahai Rabb
kami, sungguh kami telah menzalimi diri. Seandainya Engkau tidak mengampuni dan
menyayangi kami. Sungguh kami termasuk orang merugi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar